“Reaper” Protein; Mimpi Buruk Sel.

This cell is undergoing programmed cell death. Photo: © 2001 by the University of Central Arkansas (from http://biology.about.com)
Sudah menjadi suatu karakteristik sel manusia untuk bereproduksi (mitosis dan meiosis), berkembang, dan mati (apoptosis).
Kematian sel ini telah terprogram di dalam sel dan merupakan hal yang terjadi secara alami. Selain itu, dengan mekanisme ini memungkinkan tubuh manusia untuk “membiarkan mati” sel-sel yang beresiko menyebabkan kanker. Bermanfaat juga kan? Tapi jangan senang dulu, karena apoptosis dapat terjadi di semua sel, termasuk sel-sel dalam otak. Ke”pikunan” mungkin dapat disebabkan oleh peristiwa alami ini. Sebuah “pedang bermata dua” bagi tubuh dan sebuah misteri bagi para peneliti.
Pada tahun 1994, seorang peneliti bernama Steller, menyusun suatu protein “pembunuh” yang dinamakannya Reaper protein. Protein ini akan berinteraksi dengan protein-protein inhibitor apoptosis melepas “rem” kematian sel dan menginduksi sistem tersebut. Apoptosis akan langsung terjadi bila terdapat suatu molekul tambahan bernama caspases, yang merupakan algojo beringas yang siap membunuh sel tersebut. Reaper “sang hakim kematian” dan caspases “sang algojo”, sungguh duet yang menakutkan.
Baru-baru ini peneliti dari Rockfeller University, Sandu, berkenalan lebih dekat dengan protein pembunuh ini. Menggunakan Drosophila, sebagai model, protein antagonis Hid (yang juga merupakan protein pengikat protein inhibitor apoptosis pada Drosophila), dan protein Reaper terlabel, Sandu menemukan bahwa kerja Reaper sebagai pembunuh menjadi lebih hebat bila disandingkan dengan protein Hid. Protein Reaper ini akan berikatan dengan protein Hid dan menerobos masuk ke dalam sel dan langsung menyerang ke “pabrik energi” sel, yaitu mitokondria. Kerjasama dengan protein Hid memungkinkan protein ini dapat bertahan setelah proses apoptosis sehingga dapat menginfeksi ke sel-sel yang lain, menyebabkan “pembantaian” sel. Ini mungkin merupakan mimpi terburuk suatu koloni sel.
Penemuan ini mempunyai suatu potensi yang sangat besar dalam menemukan obat atau penanganan terhadap kanker. Tetapi sebelum dapat diaplikasikan, perlu diadakan penelitian lebih untuk dapat mengontrol protein “pembunuh” ini. Menjinakkan protein ini supaya dapat membasmi sel-sel yang jahat dan melindungi sel-sel yang baik, merupakan suatu pekerjaan rumah yang baru untk para peneliti kini.
Referensi:
- Sandu C, Ryoo HD, Steller H. 2010. Drosophila IAP antagonis form multimeric complexes to promote cell death. J. Cell Bio. 190(6): 1039.
Other articles you may like:
- Hati-hati, Strain Baru Salmonella yang Resisten & Ganas
- Bagaimana Virus Flu Babi Pandemik Bisa Mematikan?
- Nikotin; Dibalik Semua Alasan Orang Merokok
- Bakteri Penumpas Plak Gigi
- Struktur Molekul Protein
- Transformasi; Ekspresi Gen Asing dalam Sel Bakteri
- Kode Genetik; Sandi 3 Huruf yang Menakjubkan


















1 Comment
Great..!!!! mantab