
Awas, kuman berbahaya mengincar Anda (Image from www.dreamstime.com)
Bekerja tanpa ditemani secangkir minuman favorit dan sepiring cemilan, rasanya kurang seru ya? Apakah Anda juga memiliki kebiasaan seperti ini? Membawa makanan dan minuman ke meja kerja dan menikmatinya selagi bekerja? Jika iya, maka berhati-hatilah! Jangan-jangan mikroorganisme tak kasat mata dalam jumlah besar sedang berpesta pora dan mengancam kesehatan Anda.
Kebiasaan seperti di atas, ditambah kebiasaan buruk lainnya bisa menyebabkan meja kerja, keyboard, mouse komputer, alat tulis, tumpukan kertas bahkan setiap sudut ruang kantor Anda dihuni oleh kuman penyebab penyakit. Ini bisa terjadi karena kita cenderung menganggap bahwa ruangan kantor adalah ruangan yang bersih, padahal belum tentu, jika jarang dibersihkan, jumlah bakteri yang ada di meja kerja bisa melebihi rata-rata jumlah bakteri di toilet lho! Gawat kan? Apalagi jika Anda berbagi ruangan dengan rekan-rekan lain dan mejanya saling berhimpit.
Sekarang coba kita ingat-ingat, seberapa sering kita membersihkan meja kerja? Apa kita hanya mengandalkan office boy saja? Yakin meja kita bakalan bersih? Jangan-jangan yang terjadi malah saling bertukarnya bakteri dari satu meja ke meja lain gara-gara cara membersihkan yang tidak tepat. Selain itu, bakteri bisa saling bertukar tempat dengan cara yang bahkan tidak kita pikirkan sama sekali, misalnya saat kita berjabatan tangan, menyentuh gagang pintu, berbagi mesin fax, telepon dan komputer. Kalau sudah begini, meja kita bisa menjadi tempat yang subur untuk bakteri berkembang biak.
Ngomong-ngomong masalah kebersihan di kantor, kebetulan saya menemukan serpihan artikel koran, meskipun sudah cukup lama, yaitu koran tahun 2004, namun artikelnya sangat menarik dan relevan. Ada sebuah studi yang dilakukan oleh Soap and Detergent Association di Washington sono, yang menemukan bahwa dari 1000 responden para pekerja kantoran, 32 persennya tidak selalu mencuci tangan sebelum makan siang, 85 persen pekerja makan di meja kerjanya, 45 persen pekerja pernah melihat rekan kerjanya keluar dari toilet tanpa mencuci tangan, 22 persen melihat seorang rekannya bersin, batuk atau menguap tanpa menutupi mulutnya, dan lebih dari setengahnya merasakan adanya korelasi antara kebersihan kantor dengan jumlah pekerja yang izin tidak masuk kerja karena sakit.
Menurut Charles Gerba, seorang profesor mikrobiologi lingkungan di University of Arizona yang meneliti bagaimana penyakit ditularkan, kuman pilek atau flu dapat bertahan di atas permukaan suatu benda hingga tiga hari lamanya. Jadi meskipun rekan kerja Anda sudah terbaring sakit di rumahnya karena flu, tapi ia sudah meninggalkan ‘buah tangan’ berupa sekumpulan kuman untuk Anda dan rekan-rekan lainnya.
Selain itu, studi yang dilakukan Gerba tersebut juga menemukan bahwa rata-rata setiap pekerja menyentuh 30 permukaan setiap menitnya, dari keyboard komputer ke mouse, lalu ke gagang telepon, dll. Sebuah meja kerja rata-rata menampung bakteri 400 kali lebih banyak dibanding rata-rata toilet!
Profesor Gerba merekomendasikan penggunaan hand sanitizer atau gel alkohol untuk membersihkan tangan, dan menyemprot atau mengelap meja kerja setiap hari menggunakan pembersih disinfektan untuk meningkatkan kebersihan kantor. Jika tidak, maka setiap hari jumlah bakteri di meja kita akan terus meningkat. Jadi itu semua bisa diatasi dengan gaya hidup yang bersih dan higienis.
Istilah pencarian terpopuler untuk artikel ini:
Air yang digunakan di laboratorium memiliki tingkat kemurnian yang berbeda-beda, bergantung untuk apa air itu digunakan. Kemurnian air untuk mencuci alat-alat gelas tentu berbeda dengan yang digunakan untuk membuat larutan pereaksi, membuat media penumbuh bakteri atau membuat mastermix PCR misalnya.

Water for Laboratory Purposes (Image from www.newwaterinc.com)
Tahukah Anda bahwa air di alam yang paling bersih sekalipun, seperti mata air, tidak dapat langsung digunakan untuk keperluan di laboratorium? Walaupun air tersebut terlihat jernih, bening, dan telah melalui proses penyaringan alami dalam tanah, ia masih mengandung ion-ion terlarut yang berasal dari unsur hara tanah. Apalagi air yang telah mengalir di sungai dan melalui pemukiman dan industri, bisa terbayang banyaknya pengotor yang terkandung dalam air tersebut.
Nah, air murni yang digunakan di lab bisa juga berasal dari air seperti itu, namun sebelumnya harus melalui berbagai proses sehingga kandungan pengotornya menjadi sesedikit mungkin. Tentu saja kita tidak bisa membuat air murni dari air sungai kotor dengan sekali proses, harus ada beberapa tahapan yang dilalui. Lalu, proses apa saja yang bisa dilakukan untuk memurnikan air, dan bagaimana pula tingkatan kemurnian air tersebut?
1. Destilasi
Ini merupakan teknik tertua diantara teknik-teknik lainnya. Air dipanaskan hingga mencapai titik didihnya, kemudian uap air yang dihasilkan dikondensasi hingga mengembun kembali menjadi cairan (dinamakan “destilat”). Teknik ini akan menyingkirkan banyak pengotor, namun pengotor yang memiliki titik didih sama atau lebih rendah dari air akan tetap terbawa dalam destilat.
2. Mikrofiltrasi
Jika air dilewatkan pada suatu penyaring dengan ukuran pori-pori yang sangat kecil (1 hingga 0.1 mikron) sambil diberikan tekanan, maka pengotor-pengotor yang berukuran lebih besar dari pori-pori dapat disingkirkan. Penyaring dengan pori-pori yang lebih kecil dari 0.2 mikron dapat menyingkirkan bakteri (ini dinamakan sterilisasi dingin).
3. Ultrafiltrasi
Pori-pori penyaring yang digunakan lebih kecil dari mikrofiltrasi, hingga mencapai 0.003 mikron. Cara ini bahkan bisa menyingkirkan molekul-molekul dengan ukuran lebih besar dari pori-pori. Cara ini bisa mengenyahkan virus, endotoksin, RNase dan DNase.
4. Reverse Osmosis
Jika Anda menganggap bahwa pori ultrafiltrasi adalah yang terkecil, ternyata ada lagi yang lebih kecil, yaitu pori-pori filter reverse osmosis yang mencapai 0.001 mikron saja. Ukuran pori tersebut dapat menyaring ion-ion berdasarkan ukurannya. Metode ini digunakan untuk menghilangkan garam-garam pada air (desalting).
5. Filtrasi melalui karbon aktif
Metode ini sangat bermanfaat untuk mengenyahkan ion-ion seperti ion klorida maupun senyawaan organik, karena mereka akan teradsorbsi pada permukaan karbon aktif.
6. Radiasi UV
Cara ini memang tidak dapat menghilangkan pengotor dari air, tetapi radiasi UV pada panjang gelombang tertentu, dapat merusak DNA dan mikroorganisme. Jadi dengan UV mikroorganisme dalam air akan mati. Selain itu beberapa senyawaan organik juga dapat diurai menjadi produk yang lebih tidak berbahaya.
7. Deionisasi/Pertukaran Ion
Cara ini akan menghilangkan ion-ion dari air dengan melewatkannya melalui suatu tabung berisi resin yang terdiri atas campuran resin kationik dan anionik. Ion-ion positif pengotor akan tertarik ke partikel-partikel resin kationik sedangkan ion-ion negatif ke resin anionik. Air yang keluar dari tabung resin sudah terbebas dari ion-ion pengotor.
Air yang tersedia secara komersial menggunakan kombinasi dari teknik-teknik di atas, sehingga memiliki kemurnian sesuai kriteria yang diinginkan. Jika alat dan bahan yang diperlukan untuk memurnikan air tersedia di lab, kita pun dapat membuatnya sendiri, mengapa tidak?
Sumber: BiteSizeBio
Istilah pencarian terpopuler untuk artikel ini: