6 Faktor Penting dalam Reverse Transcriptase PCR

RT PCR alias Reverse Transcriptase PCR adalah teknik yang digunakan untuk membuat cDNA (complementary DNA) dengan RNA sebagai template-nya. Proses ini adalah kebalikan dari transkripsi DNA menjadi RNA yang umum terjadi pada makhluk hidup, sehingga dinamakan reverse transcription (transkripsi terbalik). Di alam proses ini hanya terjadi pada virus-virus tertentu ketika menyusupkan materi genetiknya yang berupa RNA ke dalam genom ‘korbannya’. (Lihat kembali mengenai ‘Central Dogma in Molecular Biology‘).

HIV Virus

HIV, salah satu virus yang memiliki enzim Reverse Transcriptase | Image from www.vircolab.com

Catatan: Jangan keliru dengan istilah realtime PCR yang juga sering disingkat RT PCR. Yang kita bahas di sini adalah Reverse Transcriptase PCR. Untuk membedakan biasanya istilah realtime PCR diganti dengan quantitative PCR (qPCR).

Di laboratorium, RT PCR umumnya dilakukan untuk menganalisa tingkat ekspresi genetik. Karena ekspresi setiap gen berbeda-beda, maka proses RT PCR harus dilakukan secara efisien dan tidak boleh melewatkan RNA dari gen yang tergolong ‘low copy’ dan sulit.

Berikut ini adalah beberapa tips yang mungkin dapat membantu:

Pemilihan primer RT

Ada 3 pilihan primer, oligo dT, random primer atau primer spesifik gen. Banyak orang menggunakan oligo dT karena mereka bisa mendapatkan salinan cDNA lengkap dari full mRNA.

Akan tetapi, jika mRNA-nya panjang (>4 kb) atau tidak memiliki ekor poly A (mRNA prokaryota), maka pilihannya adalah random primer. Dengan random primer, ujung 5′ gen-gen yang panjang dapat ditranskripsi balik, tetapi cDNA yang diperoleh mungkin tidak full dari seluruh gen. Biasanya digunakan random primer 6-mers, tetapi 8 atau 9-mers dapat meningkatkan ukuran cDNA karena primernya akan terhibridisasi lebih jarang.

Untuk aplikasi qPCR (quantitative PCR) gen-gen eukaryota, hasil terbaik bisa diperoleh dengan menggunakan kombinasi random primer panjang dan oligo dT.

Pilihan ketiga adalah primer spesifik gen yang dapat meningkatkan sensitivitas dengan mengarahkan seluruh aktifitas enzim RT untuk mentranskripsi balik hanya RNA tertentu saja. Jika yang kita lakukan adalah one-step RT PCR, primer spesifik gen digunakan karena primer RT juga nantinya digunakan sebagai primer reverse pada reaksi PCR-nya.

Struktur Sekunder RNA

Struktur sekunder ini bisa jadi masalah dalam transkripsi balik RNA secara utuh. Ibarat menemui jalan buntu, enzim RT dapat berhenti ketika menemui struktur sekunder pada RNA-nya.

Sulit memang memprediksi apakah RNA kita akan memiliki struktur sekunder, tapi biasanya kandungan GC yang tinggi bisa kita jadikan indikator bahwa RNA akan sulit untuk memisah dan mungkin tidak akan benar-benar menjadi utas tunggal sebelum reaksi. Untuk mengatasinya, bisa dengan melakukan denaturasi dulu pada suhu 65C selama 5 menit sebelum reaksi RT agar RNA-nya dalam keadaan rileks.

Pendekatan lainnya adalah dengan menggunakan enzim RT yang dapat bekerja pada suhu yang lebih tinggi dari RT standar. Ada juga enzim RT yang mampu menembus struktur sekunder RNA meski dilakukan pada suhu RT standar.

Menyingkirkan gDNA

Kontaminasi DNA genom (gDNA) pada RNA merupakan salah satu penyebab terjadinya false positif saat reaksi PCR nantinya. Ada beberapa cara untuk menyingkirkan gDNA, misalnya pemberian DNase selama proses atau setelah isolasi RNA.

Jika sample RNA diisolasi dari sel eukaryota, maka cara terbaik menghindari kontaminasi gDNA ketika PCR adalah dengan mendesain primer yang menyeberangi intron atau batas intron-exon. Seperti kita tahu bahwa mRNA pada eukaryota merupakan hasil transkripsi dari exon pada gDNA tanpa diseling-selingi lagi oleh intron-intron. Dengan cara ini tidak akan terjadi amplifikasi terhadap gDNA (atau setidaknya akan memiliki produk PCR yang berbeda ukurannya).

Satu hal yang harus diwaspadai adalah pseudogene, yaitu salinan dari mRNA hasil splicing yang diinsersikan ke dalam genom. Primer yang didesain hanya untuk mRNA tadi tetap akan mengamplifikasi pseudogene ini.

Untuk mRNA prokaryota masalah tidak akan selesai dengan primer yang didesain menyeberangi intron karena gDNA prokaryota tidak memiliki intron, sehingga penyingkiran gDNA ini amat krusial untuk keakuratan pengukuran ekspresi gen. Satu-satunya pilihan adalah reaksi enzimatik selama proses isolasi mRNA seperti yang diuraikan di atas. Harus dipastikan pula bahwa gDNA benar-benar tidak mengganggu amplifikasi, misalnya dengan buffer-buffer tertentu penghilang sisa-sisa DNA atau dengan mengamplifikasi (PCR) langsung RNA hasil isolasi tanpa melalui proses RT PCR. Jika amplifikasi PCR tetap terjadi berarti gDNA masih bercokol di situ.

Memeriksa RNA Integrity

Kualitas RNA amat berpengaruh terhadap hasil sintesa cDNA. Variasi kualitas RNA dari batch-ke-batch dapat menyebabkan hasil yang tidak konsisten. Sebelum melakukan reaksi RT PCR, kita harus memeriksa kualitas band rRNA dengan melarikannya pada gel agarose dan memeriksanya secara visual. RNA eukaryota yang masih utuh (intact) ditunjukkan dengan adanya dua band rRNA 28s dan 18s yang jelas dengan intensitas pita 28s (lebih besar) kira-kira 2 kali intensitas pita 18s (lebih kecil). Jika intensitasnya sama pun masih bisa dianggap bagus.

Jangan gunakan RNA yang memiliki smear tebal di sekitar pita rRNA apalagi pada bagian bawah untuk reaksi RT PCR. Karena jika demikian sample RNA tersebut telah terdegradasi.

Cara yang lebih akurat dan hemat sample adalah menggunakan Agilent BioAnalyzer untuk menentukan kualitas RNA secara lebih akurat. Selain menampilkan visualisasi pita-pita RNA dalam bentuk grafik, juga dapat menghitung RNA Integrity Number (RIN) secara kuantitatif. Skor RIN sempurna adalah 10, RIN 8 tetap OK, dan jika sudah di bawah 7 maka artinya sample RNA kita sudah terdegradasi dan akan menyebabkan hasil yang tidak konsisten. Cara ini memang lebih mahal tetapi hasil yang diberikan sangat akurat, terlebih jika sample RNA akan digunakan untuk analisa ekspresi seperti microarrays.

Pengukuran Kuantitas RNA

Selain keutuhan RNA, kuantitas hasil isolasi RNA pun penting untuk diketahui. Akurasi hasil pengukuran dapat dipengaruhi beberapa faktor seperti akurasi instrumen yang digunakan, kontaminasi DNA, garam-garam, dan juga tingkat degradasi RNA. Untuk pengukuran kuantitas RNA, spektrofotometer Nanodrop adalah alat yang digemari karena kemudahan dan akurasinya, disamping itu jumlah sampel yang diperlukan hanya 1 uL saja sehingga sangat menghemat sampel RNA yang sangat berharga untuk penelitian selanjutnya.

Kelemahan instrumen spektrofotometer UV untuk pengukuran RNA adalah bahwa DNA genom dan garam-garam yang mengkontaminasi akan terukur juga absorbansinya bersama dengan RNA sehingga akan menyebabkan false positive. Untuk itu dikembangkan suatu teknik pewarnaan spesifik RNA menggunakan Ribogreen, jadi yang diukur absorbansinya adalah Ribogreen yang terikat pada RNA sehingga hasil pengukuran akan lebih akurat.

One Step RT-PCR atau Two Step RT-PCR?

Pada one step RT-PCR, reaksi transkripsi balik untuk mengkonversi RNA menjadi cDNA dan reaksi PCR untuk mengamplifikasi gen tertentu yang ingin kita ketahui ekspresinya dilakukan dalam satu rangkaian reaksi dan dalam satu tabung reaksi yang sama. Sedangkan pada two step RT-PCR, reaksi transkripsi balik dan reaksi PCR dilakukan secara terpisah dan melibatkan beberapa tabung reaksi.

Masing-masing cara memiliki keunggulan dan kelemahan, dan pilihannya amat bergantung pada penelitian yang kita lakukan. Dengan one step RT-PCR, tidak ada proses transfer sample sehingga mengurangi sumber kontaminasi, dan karena digunakan primer spesifik untuk RT-PCR dan PCR, maka sensitifitasnya bisa lebih baik. Dengan two step RT-PCR, RNA dapat dikonversi menjadi cDNA dalam jumlah besar sekaligus, baru kemudian dialiquot untuk digunakan pada analisis beberapa gen berbeda. Ini dapat mengurangi variasi ketika membandingkan ekspresi beberapa gen dari sumber yang sama. Pilihan primer pun beragam, bisa oligo dT, random primer atau primer spesifik gen. Jadi, pilihannya bergantung kebutuhan riset kita.

Karena banyak faktor yang mempengaruhi kesuksesannya, maka alangkah baiknya kita merancang metode RT-PCR ini dengan lebih baik, dan kondisi yang optimum bisa saja bervariasi dari satu penelitian ke penelitian lainnya. Dan begitu kondisi yang optimum sudah diperoleh, maka metode tersebut dapat digunakan secara konsisten.

Other articles you may like:

Tags:

16 Comments

  1. Kurniadhi says:

    Pemilihan enzim sangat penting dalam proses tsb. Enzim yang lazim digunakan AMV Reverse Transcriptase, MLV RT enzyme. Proses enzimatik enzim-enzim tersebut membutuhkan suhu optimal sekitar 45oC. Sehingga proses RT-PCR perlu ditambah dengan 1 step suhu sebelum PCR. Penambahan tersebut membuat proses RT-PCR lebih lama dibanding PCR.

    Tips : pakai enzim rTth, sebab enzim ini unik. bisa bekerja menjadi RT enzim jika ada ion Mn2+ , dan bekerja menjadi DNA Polymerase jika ada ion Mg2+. Sehingga bisa lebih cepat.

    • yepyhardi says:

      Thanks atas info dan tipsnya. Tapi meski menggunakan enzim rTth, bukankah tetap harus mengubah RNA menjadi cDNA dulu, baru setelah itu dilakukan PCR? Mungkin selain menghemat waktu teknik ini bisa menghemat penggunaan tube dan reagent juga ya mas?

  2. terima kasih artikelnya mas Yepy…
    Saya biasa menggunakan 2 steps RT PCR dalam pekerjaan saya, memang memerlukan waktu yg sedikit lebih lama dibandingkan dengan 1 step RT PCR. Tetapi ada kelebihannya yaitu, kita mempunyai cadangan cDNA hasil reaksi RT, yg dapat digunakan lagi, sehingga apabila akan mengulanng PCR, tdk perlu lagi melakukan RT lagi.Dengan demikian akan menghemat penggunaan RT reagen Enzim yg digunakan adalah MMuLV RT, dengan suhu optimum 42 derajat..tetapi enzim ini pun masih bisa bekerja dengan baik pada suhu 37 derajat , berdasarkan pengalaman saya.

  3. M. Haryadi Wibowo says:

    Halo mas Yepy…apa kabarnya….wah blognya bagus…sangat membantu siapa aja yg minat di biotek… Masih di Wilmard mas…

    Salam dan sukses

    • yepyhardi says:

      Halo pak, bgm kabarnya? Maaf baru reply comment-nya. Terima kasih, kita memang bermaksud menyebarkan ilmu bioteknologi dgn cara yang semudah mungkin utk dimengerti. Kita jg terbuka kok pak utk menerima artikel dari siapa saja, kalau bapak ada artikel yg ingin dishare bisa dikirim ke kami, :-)
      Alhamdulillah sy msh d Wilmar pak. Terima kasih sdh mampir di blog kami..

  4. lia melyda says:

    selamat pagi,,,,
    untuk hasil dri PCR ini seperti apa ya?

    • yepyhardi says:

      Halo mbak lia,

      Hasil pcr adalah fragmen atau potongan DNA dengan ukuran tertentu yang sudah dikopi berjuta2 bahkan bermilyar2 kali atau bahkan lebih lagi dari semula. Secara kasat mata baru terlihat kalau kita jalankan di elektroforesis gel dan divisualisasi menggunakan pewarna seperti Ethidium bromida atau pewarna lainnya. Nanti bentuknya seperti pita/band. Mbak bisa lihat di artikel kami yang lain tentang PCR.
      Makasih mbak, semoga bisa membantu..

      • lia melyda says:

        halo mas yepy, salam kenal y mas,,,,
        sebenar nya sy mw angkat bahasan tentang mikrobakteri tbc untuk bahan TA sy… tpi sy msh bngung apakah hasil pcr ini sperti hasil x-ray yah?
        pita/band yang mas maksud itu seperti apa??
        terima kasih atas balasan nya…..
        ^__^

  5. ida says:

    pak bisa jelaskan maksud dari pasangan sk primer 38/39 itu maksudnya bagaimana? mohon penjelasannya

    • yepyhardi says:

      Halo mbak Ida,
      Hmm mungkin itu adalah kode atau nama primer yang tidak bisa menunjukkan apapun kecuali kita tahu urutan/sekuen nukleotida penyusunnya. Jadi yang penting adalah sekuennya seperti berikut:
      5′-AGGTCCAGAATCGTCCA-3′
      karena dengan begitu kita bisa mensintesanya kembali jika diperlukan.
      Semoga bs menjawab pertanyaan mbak..

  6. Indi says:

    Selamat malam pak,

    Saya sangat tertarik dengan artikel bapak karena bersangkutan dengan tema skripsi saya pak, saya mau bertanya,
    maksud artikel di atas begini bukan ya, untuk analisa virus myo, pendeteksiannya menggunakan reverse transcriptase PCR kemudian untuk penghitungan virus bisa menggunakan spectrofotometer nanodrop dengan penggunaan ribogreen?

    Jika memang benar, sekiranya lembaga apa saja yang memiliki pelayanan reverse transcriptase PCR dan spektrofotometer nanodrop untuk kuantifikasi virusnya ya pak?

    Mohon dibalas pak saya sangat butuh info dan jawabannya, terima kasih banyak pak :)

    • yepyhardi says:

      Halo mbak indi, makasih atas pertanyaannya.
      Utk virus myo sendiri genomenya berupa RNA atau DNA ya? Krn setau saya dia genomenya DNA. Sebab kalau dia DNA maka tidak perlu melalui tahap reverse transcriptase PCR, bisa langsung dikuantifikasi dengan metode quantitative PCR (qPCR) alias realtime PCR. Tetapi jika memang dia RNA genome, maka bisa dilakukan reverse transcriptase PCR, lalu dipilih salah satu gen atau segment utk dikuantifikasi menggunakan qPCR.
      Pengukuran dengan nanodrop + ribogreen hanyalah untuk mengetahui konsentrasi RNA dalam larutan (dlm satuan ng/ul), sedangkan kuantifikasi tetap menggunakan qPCR dengan kurva standard sebagai acuannya.
      Demikian mbak, semoga cukup jelas, jika masih ada yg ingin ditanyakan silakan disampaikan.
      Makasih…

  7. budi says:

    Halo mas Yepi,
    mo tanya tentang hasil quantifikasi RNA, setelah sy ekstraksi, konsentrasi 40-150ug/ml, A260/280 = 1,7-1,95, tapi A260/230, hasilnya rendah, cuma 0,7-1,2. Saya gunakan TRIZOL combine dg RNeasy column. Sy baca2 , tampaknya ada kontaminasi Trizol, phenol, atw lainnya. Sekarang sy simpan RNA dalam RNA free water di -80 derajat C, sy mau gunakan untuk real time PCR, tp masih menunggu dan mencari2 metode apakah A260/230 nya bisa diperbaiki. Mohon masukannya untuk mengatasi A260/230 yg rendah itu. terima kasih sebelumnya.

    • Halo juga mas,
      Biasanya bisa dipurifikasi dengan isopropanol (50% volume), kemudian di-centrifuge dgn kecepatan tinggi (13.000 rpm) utk mengendapkan pellet RNA, setelah itu dicuci menggunakan alkohol 75%. Pelet yang sudah bersih dilarutkan dalam elution buffer/rehydration buffer seperti biasa.
      Cara lain bisa dengan dipurifikasi lagi menggunakan RNeasy column, tetapi tidak perlu dari tahap awal, cukup dimulai dari penambahan ethanol sebelum bind ke column.
      Kedua cara ini berisiko menurunkan konsentrasi RNA yang diperoleh, untuk itu sebaiknya jangan dipurifikasi semua, sisakan sebagian untuk jaga-jaga kalau setelah purifikasi malah RNA-nya hilang :-)
      Demikian mas, semoga bisa membantu.

Leave a Comment





x