Biologi Sel dan Bhinneka Tunggal Ika

Bhinneka Tunggal Ika (image from kayakarya.com)

Bhinneka Tunggal Ika (image from kayakarya.com)


Prof. Ir. Antonius Suwanto, Ph.D.
Guru Besar Genetika Molekul
Departemen Biologi, Institut Pertanian Bogor, Bogor

Setiap individu manusia dewasa tersusun dari sekitar 10 triliun sel yang tidak kasat mata. Oleh karena itu kita disebut sebagai makhluk multisel. Sel manusia itu sangat beragam: ukuran, jenis, jumlah, dan tugas atau fungsinya. Ada sel kulit, sel darah, sel tulang, sel jantung, sel otak dan lainnya. Sejumlah sel berkelompok membentuk suatu jaringan tertentu dengan fungsi yang khusus pula.
Sel jantung berkumpul membentuk jaringan dan organ jantung yang penting untuk memompa darah. Sel kulit membentuk organ kulit yang menjadi pelindung utama dan memberikan penampilan menarik pada manusia. Sel otak berkelompok menjadi otak dan sumsum yang tugas utamanya ialah mengatur aktivitas biologi sehingga manusia bisa bernalar dan bereaksi. Demikian juga untuk sel-sel lainnya yang membentuk berbagai organ: usus, paru- paru, tulang, darah, otot, hati, ginjal, dan seterusnya yang membuat satu individu manusia utuh.

Awalnya, triliunan sel tersebut berasal dari satu sel yang terbentuk dari penyatuan antara sel sperma dan sel telur. Satu sel awal yang disebut zigot ini membelah menjadi 2, 4, 8, 16, dan seterusnya sehingga menjadi sekitar 10 triliun pada seorang individu manusia dewasa. Dalam tahap awal pembelahan sel tersebut juga terjadi proses biologi yang sangat menakjubkan, yaitu pembentukan keanekaragaman sel atau proses diferensiasi. Dalam proses ini terbentuk sel dengan berbagai bentuk, sifat, dan fungsi sebagaimana telah dipaparkan di atas. Diferensiasi menunjukkan sangat pentingnya membuat dan menghargai perbedaan sel. Apa jadinya bila tidak ada diferensiasi dalam proses perkembangan embrio manusia? Manusia akan terdiri atas kumpulan sel yang seragam sehingga tidak ada kulit, mata, tulang, darah, atau lainnya. Tanpa diferensiasi, manusia mungkin hanya akan berupa gumpalan daging atau lendir berbentuk bola. Saat bayi terlahir ke dunia, sang ibu memberikan hadiah pertamanya: sejumlah bakteri dan mikroorganisme lain, dari vagina dan anus, yang nantinya akan sangat membantu menyempurnakan perkembangannya. Mikroorganisme ini pada manusia dewasa jumlahnya sekitar 10 kali lipat jumlah sel individu manusia itu sendiri atau100 triliun sel. Semua sel manusia yang sangat beraneka ragam ini hidup bersama, bahkan dengan ratusan triliun “tetangga asing” – sel mikroorganisme – membentuk satu individu manusia yang bugar dan unik sampai akhir hayatnya.

Dari penampilannya saja sel kulit jelas berbeda dengan sel darah atau sel otak, tetapi bukan berarti sel kulit itu inferior atau lebih rendah statusnya dari sel otak. Sel kulit dibiarkan berbeda dan diberi otonomi untuk tetap bebas merdeka sebagai sel kulit. Demikian juga, sel darah tetaplah sebagai sel darah yang diperlukan untuk transpor oksigen dan nutrien bagi tubuh kita. Sel tulang ya mesti jadi tulang yang kuat yang bertugas sebagai penyanggah utama sosok individu yang cantik atau tampan. Adakah sel yang lebih penting atau kurang penting? Adakah sel yang minoritas atau mayoritas? Dalam tubuh kita tidak ada yang lebih superior atau inferior, semua sel itu dibutuhkan untuk menjalankan semua fungsinya dengan baik sehingga terbentuk individu manusia yang utuh dan bugar. Sel otak tampak sebagai pengatur dan diletakkan dalam posisi dan perlindungan yang khusus, namun apa artinya tanpa tulang, kulit, dan darah? Justru karena sangat rentan dan perlu banyak oksigen itulah sel otak perlu “helm” khusus dan pembuluh darah besar untuk memasok oksigen. Semua sel yang beraneka ragam ini menjalankan tugasnya masing-masing dengan konsisten, dan tidak saling mengganggu. Manusia merupakan makhluk hidup multisel dengan keanekaragaman sel yang sangat tinggi. Bila manusia dianggap sebagai makhluk paling sukses di Bumi (dibandingkan dengan bakteri, cendawan, ubur-ubur, pohon pisang, atau gajah) maka derajat keragaman multiselnya yang tinggi menjadi penentu kesuksesan ini. Kehidupan multisel pada manusia dapat menjadi contoh yang sangat baik bagaimana keragaman itu dapat dikelola untuk menghasilkan kesuksesan suatu spesies yang namanya Homo sapiens. Sel yang berbeda dapat hidup berdampingan, bahkan dengan sel mikroorganisme sekalipun, tanpa meminta atau memaksa sel yang satu menjadi sama seperti sel yang lain. Justru perbedaan itu diperlukan untuk menopang berbagai kebutuhan biologi manusia seutuhnya.

Meskipun demikian, sistem biologi juga dilengkapi dengan kontrol agar sel yang berubah sifat menjadi pemberontak atau pemaksa dapat segera direparasi atau disingkirkan melalui mekanisme reparasi mutasi atau eliminasi sel mutan yang agresif. Apa yang terjadi bila sel kulit memaksa masuk ke dalam darah atau paru-paru seperti yang terjadi pada kanker kulit yang telah menyebar (metastasis)? Tentu saja ini akan menyebabkan individu secara keseluruhan menjadi sakit atau mati, suatu keruntuhan pada seluruh bangunan sosial multiselular manusia. Sel kulit dijamin kebebasan eksistensi dan ekspresinya yang unik, yang berbeda dengan sel paru-paru dan sel darah, tetapi dia tidak boleh memaksakan diri untuk berubah menjadi liar dan menginvasi atau merugikan sel lain. Demikian juga sebaliknya, sel darah atau tulang tidak boleh memusuhi atau menyingkirkan sel kulit karena adanya perbedaan. Bahkan untuk sel darah merah yang jumlah dan penampilannya paling dominan (merah), tidak akan menyingkirkan sel darah putih yang sepintas tampak tidak mengikuti persepsi umum untuk karakteristik “darah”. Ini semua untuk menjaga keutuhan dan kebugaran “negara” multisel manusia.

Tidak jelas apakah pada zaman Majapahit orang telah memahami makna penting dari aspek biologi manusia yang saat ini sedang giat dipelajari melalui pendekatan Human Genome, Epigenome and Microbiome. Yang jelas dan seharusnya menjadi kebanggaan manusia Indonesia ialah bahwa seorang Mpu Tantular yang hidup pada zaman tersebut telah mampu meneropong konsep biologi yang sangat mendasar ini dan menorehkannya dalam suatu frase anggun Bhinneka Tunggal Ika.

Frase yang yang menjadi semboyan Negara Republik Indonesia ini dalam bahasa Inggris sering diterjemahkan sebagai Unity in Diversity, yang dapat diartikan sebagai Keberagaman dalam Kesatuan. Sejarah mencatat bahwa Nusantara dengan Bhinneka Tunggal Ika-nya ini pernah menjadi negara besar yang dikagumi, antara lain karena kepiawaiannya untuk mengelola masyarakatnya yang beragam. Ternyata frase tersebut bukan cuma syair indah dalam Kakawin Sutasoma, tetapi juga merupakan falsafah dasar semua kehidupan multisel, termasuk manusia. Dari perspektif biologi, Bhinneka Tunggal Ika sangatlah alamiah karena landasannya adalah sistem kehidupan itu sendiri. Sel-sel kita telah memberi contoh sukses yang telah teruji sedikitnya selama ratusan juta tahun: memberi kebebasan dan toleransi terhadap keragaman dan keunikan merupakan strategi penting untuk dapat sintas (survive) dalam kehidupan bermasyarakat, seperti kehidupan sel dalam makhluk multisel.

Other articles you may like:

Tags:

3 Comments

  1. azizah says:

    terimkasih bapak…bs belajar dr bapak sangat menyenangkan dan mudah dipahami..:-)

  2. Gina Kusuma Intani says:

    bapak, keren sekali tulisannya.. wawasan jd semakin terbuka..

  3. slamet abadi says:

    Bpk yth. boleh tidak saya ingin konsultasi tentang dna rna untuk sinopsis S-3 akan tetapi saya mempunyai latar belakang statistika S-2 IPB dan ada rencana ambil biostatistika dna rna? terima kasih

Leave a Comment





x