Elektroforesis; Pintu Gerbang Penelitian Biologi Molekular

Gel Electrophoresis; image from http://clearlyexplained.com/culture/health/electrophoresisgel.jpg

Gel Electrophoresis; image from http://clearlyexplained.com/culture/health/electrophoresisgel.jpg

Saat ini, teknik pemisahan dan pemurnian DNA/RNA merupakan teknik yang tidak dapat dipisahkan dari biologi molekular. Hampir semua penelitian DNA/RNA mesti melibatkan pemisahan dan pemurnian yang tekniknya cukup beragam. Elektroforesis adalah salah satu teknik pemisahan paling populer, maka tak heran jika elektroforesis disebut sebagai pintu gerbang dari berbagai penelitian biologi molekular. Nah, sekarang ada baiknya kita telusuri dulu teknik-teknik tersebut dari masa ke masa.

Oh ya, pada prinsipnya elektroforesis itu adalah teknik pemisahan campuran molekul yang didasarkan pada perbedaan muatan listriknya sehingga pergerakan molekul-molekul tersebut pada suatu fasa diam (stationary phase) dalam sebuah medan listrik akan berbeda-beda.

Elektroforesis dengan Kertas Saring

[simage=233,160,y,right]

Kisah teknik pemisahan DNA/RNA ini berawal dari sekelompok ilmuwan biokimia di awal tahun 1950-an yang sedang meneliti mekanisme molekular DNA/RNA hidrolisis. Saat itu, tepatnya tahun 1952, Markham dan Smith mempublikasikan bahwa hidrolisis RNA terjadi melalui mekanisme pembentukan zat antara (intermediate) posfat siklik, yang kemudian menghasilkan nukleosida 2′-monoposfat dan 3′-monoposfat. Bagaimana keduanya bisa mengungkap rahasia ini?

[simage=232,200,y,left]

Ternyata mereka menggunakan suatu peralatan yang dapat memisahkan komponen campuran reaksi hidrolisis tadi, salah satunya yaitu nukleotida ‘siklik’ yang membawa pada kesimpulan bahwa hidrolisis RNA terjadi melalui pembentukan intermediate posfat siklik. Peralatan itu mereka namakan ‘elektroforesis‘, yang dibuat dari kertas saring Whatman nomor 3, sebuah tangki kecil dan berbagai larutan penyangga (buffer). Nukleotida yang sudah terhidrolisis ditaruh di atas kertas saring, kemudian arus listrik dialirkan melalui kedua ujung alat elektroforesis.

Arus listrik yang dialirkan ini ternyata dapat memisahkan campuran kompleks reaksi tadi menjadi komponen-komponennya, ini akibat adanya perbedaan minor antara struktur molekul RNA yang belum terhidrolisis, zat antara (intermediate) dan hasil reaksi (nukleosida 2′-monoposfat dan nukleosida 3′-monoposfat) yang menyebabkan mobilitas alias pergerakan mereka pada kertas saring berbeda-beda kecepatannya. Karena pada akhir proses elektroforesis komponen tersebut terpisah-pisah, mereka dapat mengisolasi dan mengidentifikasi setiap komponen tersebut.

Elektroforesis Gel Kanji

[simage=234,200,y,left]

Selanjutnya teknik elektroforesis dikembangkan untuk memisahkan biomolekul yang lebih besar. Tahun 1955 Smithies mendemonstrasikan bahwa gel yang terbuat dari larutan kanji dapat digunakan untuk memisahkan protein-protein serum manusia. Caranya yaitu dengan menuangkan larutan kanji panas ke dalam cetakan plastik, setelah dibiarkan mendingin kanji tersebut akan membentuk gel yang padat namun rapuh. Gel kanji berperan sebagai fasa diam (stationary phase) menggantikan kertas saring Whatman pada teknik terdahulu.

Ternyata elektroforesis gel yang diperkenalkan Smithies memicu para ilmuwan untuk menemukan bahan kimia lain yang dapat digunakan sebagai bahan gel yang lebih baik, seperti agarosa dan polimer akrilamida.  Dan penemuan elektroforesis gel kanji di awal karir Smithies membawanya menerima hadiah nobel bidang kedokteran tahun 2007.

Polyacrilamide Gel Electrophoresis (PAGE)

[simage=236,200,y,left]

Teknik elektroforesis gel makin berkembang dan disempurnakan, hingga 12 tahun kemudian ditemukan gel poliakrilamida (PAGE = Polyacrilamide Gel Electrophoresis) yang terbentuk melalui proses polimerisasi akrilamida dan bis-akrilamida. PAGE ini sanggup memisahkan campuran DNA/RNA atau protein dengan ukuran lebih besar.

Meskipun aplikasi elektroforesis makin berkembang luas, namun ternyata teknik ini masih menyerah jika digunakan untuk memisahkan DNA dengan ukuran yang super besar, misalnya DNA kromosom. Campuran DNA kromosom tidak dapat dipisahkan meskipun ukuran mereka berbeda-beda.

Pulse-Field Gel Electrophoresis (PFGE)

[simage=235,200,y,left]

Pertengahan 1980-an, Schwartz dan Cantor membeberkan ide cerdasnya untuk memisahkan campuran DNA berukuran super besar menggunakan teknik yang dinamakan Pulse-field Gradient Gel Electrophoresis (PFGE), yang menggunakan pulsa-pulsa pendek medan listrik tegak lurus yang arahnya berganti-ganti. Teknik PFGE kini digunakan secara luas oleh para ahli biologi dalam studi genotyping berskala masif, juga analisa epidemiologi molekular pada patogen.

Keempat teknik di atas merupakan pintu masuk bagi penelitian-penelitian lainnya dalam bidang biologi molekular yang kini berkembang sangat pesat. Sulit dibayangkan sebuah laboratorium biologi molekular dapat menghasilkan sesuatu tanpa teknik elektroforesis. Tanpa elektroforesis, DNA/RNA yang sedang kita teliti akan bercampur dengan kontaminan yang tidak kita inginkan, sulit pula membayangkan cara mengetahui ukuran DNA/RNA/protein yang lebih praktis selain dengan elektroforesis, bahkan teknik DNA sequencing modern sekalipun sangat bergantung pada teknik elektroforesis ini. Terima kasih kepada Markham dan Smith yang telah mencoba meneteskan RNA hidrolisat pada selembar kertas saring dan memisahkannya dengan arus listrik.

Sumber:

  • Finkelstein, 2007, Nature Milestones; DNA Technologies, Nature Publishing Group.
  • http://dukeresearch.blogspot.com/2009/04/flipping-through-chronicles-of-nobel.html

Other articles you may like:

Tags:

50 Comments

  1. trida says:

    pakk,, ada ga materi tentang elektroforesis kapiler?

    • yepyhardi says:

      Sementara ini belum dibahas secara spesifik nih.. Tapi salah satu aplikasi dari elektroforesis kapiler yaitu DNA Sequencing udah banyak dibahas di blog ini. Bisa dicari lewat kolom “search”. Mungkin nanti kita coba bahas secara khusus, thanks ya…

  2. Omalbari says:

    Saya hanya ingin menginformasikan bahwa analisa SDS Electrophoresis dapat dilakukan di Fakultas Peternakan dan Pertanian UNDIP Semarang. Jika ada yang mau analisa, silakan hubungi laboran: Bapak Indarto. Terimakasih.

  3. Fahesa says:

    Pak Yepy, sy mo tanya, sy visualisasi hsl PCR dg PAGE, & hslnya clear single band, hsl PCR tsb sy potong dg enzim restriksi (analisis RFLP), stl sy visualisai lg dg PAGE yang seharusnya hanya terdapat 1, 2 atau 3 band sj tetapi terlihat ada non spesifik band yang ukuranya mcm2, malah ada yg lbh besar dr ukuran band yg seharusnya tdk terpotong (di atas band target hsl PCR), sy menemukan gambar hsl analisis RLFP jg spt yg sy alami tetapi tdk ada pembahasan mengenai hal tsb, jd mohon penjelasannya ya Pak….trimakasih.

    • Hm… semestinya kalau hasil PCR single band tidak mungkin diperoleh hasil digest dengan ukuran lebih besar. Saya kira penyebab paling mungkin adalah genomic DNA yang digunakan sebagai template PCR ikut terpotong sehingga ketika divisualisasi muncul sebagai band-band dengan berbagai ukuran. Ketika elektroforesis hasil PCR mungkin genom DNA ini tidak terlihat karena ukurannya sangat besar (mungkin juga tidak bisa menerobos pori-pori gel agarose sehingga posisinya ada di atas dekat well). Tetapi setelah digest, genomic DNA ini terpotong sehingga ukurannya lebih kecil dan dapat ikut terelektroforesis bersama dengan hasil digest produk PCR tadi. Saran saya sebaiknya hasil PCR dimurnikan dulu (dengan PCR purification kit misalnya), baru dilakukan digesti agar hasilnya lebih baik.

  4. Fahesa says:

    Trimakasih sekali ya Pak atas jawabanya,sy boleh bertanya lagi ya Pak, jd hasil PCR itu msh mengandung (membawa) genomic DNA selain amplicon target PCR ya Pak? Jd pemahaman sy salah, sy kira bagian genom DNA d luar target PCR akan rusak selama proses PCR, maaf ya Pak, sy bener2 baru awal2 belajar PCR..trimakasih ya Pak, sy sangat senang n terbantu betul belajar biomol dg artikel2 Bapak.

  5. Fahesa says:

    Trimakasih sekali ya Pak atas jawabanya,sy boleh bertanya lagi ya Pak, jd hasil PCR itu msh mengandung (membawa) genomic DNA selain amplicon target PCR ya Pak? Dlm hal tsb, target PCR sy adl suatu gen virus, sbg templat adl DNA total (tanaman & virus = diisolasi dr tanaman terinfeksi virus), jd genomic DNA lain yg dimaksud adl DNA tanaman ato DNA virus d luar target PCR ya Pak? Jd pemahaman sy salah, sy kira bagian genom DNA d luar target PCR akan rusak selama proses PCR, maaf ya Pak, sy bener2 baru awal2 belajar PCR..trimakasih ya Pak, sy sangat senang n terbantu betul belajar biomol dg artikel2 Bapak.

    • Yup, itu kemungkinan yg paling mungkin, apalagi kalau DNA genome (dalam hal ini dari tanaman+virus) yang dijadikan template PCR cukup banyak. Jadi sebaiknya memang dilakukan purifikasi dulu sebelum dilakukan digesti.
      Kalau mau ada yg didiskusikan lagi jangan sungkan2 kontek2 kita ya… :-)

  6. nuroniyah says:

    selamat pagi P.Yepy. saya masih awam ttg elektroforesis gel, dan saya baru saja melakukan gel elektroforesis agarosa untuk menguji hasil isolasi DNA kromosom bakteri. Hasil elektroforesis adalah adanya pita tebal di atas sumur, lalu ada beberapa pita transparan di beberapa area dan pita tebal dan lebar sejajar dengan marker 250 bp. saya belum bisa memastikan apakah isolasi DNA kromosom sudah berhasil melalui hasil elektroforesis tersebut. bagaimana menurut pandangan Bapak?. apakah pada umumnya elektroforesis hasil isolasi DNA kromosom memang menunjukkan pola seperti itu? jika tidak, bagaimana seharusnya?
    terima kasih

Leave a Comment





x