Halomonas titaniceae: Para Penghuni Terakhir Titanic

Bangkai Titanic dengan kumpulan H. Titaniceae (image from dailymail.co.uk)

Bangkai Titanic dengan 'kehidupan baru' barupa kumpulan H. Titaniceae (image from dailymail.co.uk)

Tepat satu abad yang lalu, pada tanggal 15 April 1912, RMS Titanic menabrak karang es pada pelayaran pertamanya menuju Amerika dari Inggris. Kapal tersebut tenggelam dan hanya 200-an penumpang yang berhasil selamat. Akan tetapi, seperti setiap bencana yang terjadi dalam sejarah manusia, benih-benih kehidupan siap muncul kembali walaupun kehidupan yang muncul adalah mikroba.

Ketika bangkai Titanic ditemukan pada tahun 1985 pada kedalaman 3.8 km di bawah permukaan laut, para ahli terkejut melihat struktur karang yang disebabkan mikroorganisme seperti cendawan dan bakteri yang telah memenuhi seluruh tubuh kapal yang terbuat dari besi. Tidak hanya berupa lapisan tipis, karang yang terbentuk tampak seperti bilah-bilah es dan setiap bagian besi yang ditumbuhi karang menunjukkan ciri-ciri berkarat seperti berwarna kemerahan.

Hasil yang menarik ditemukan oleh para ilmuwan dari Dalhouse University, ketika mereka berhasil mengisolasi salah satu spesies bakteri dari kesatuan mikroorganisme tersebut. Bakteri temuan mereka dinamakan Halomonas titaniceae karena keberadaan mereka yang sangat menarik: hanya terdapat di bangkai kapal Titanic dan tidak pernah ditemukan di tempat lainnya. Para ahli masih bertanya-tanya apakah H. titaniceae mengkontaminasi Titanic sebelum atau sesudah tenggelamnya.

20120419-073034.jpg

Kiri: Electron micrograph (negative staining) dari Halomonas titanicae; Tengah: Pembesaran gambar bangkai Titanic; Bakteri yang membentuk semacam stalagmite (Image from species.asu.edu)

Karakteristik lain dari H. titaniceae selain habitatnya yang sangat spesifik adalah kemampuan untuk mendigesti logam terutama besi kapal bersama dengan 26 jenis bakteri lainnya yang ditemukan di dalam pori-pori besi kapal. Para ilmuwan akhirnya mengetahui reaksi karat yang ditemukan di sepanjang bangkai Titanic disebabkan oleh mikroorganisme yang mempercepat dekomposisi.

Penemuan H. titaniceae sebagai bakteri pengurai besi bawah laut membuat para ilmuwan menduga-duga akibat yang bisa ditimbulkan. Beberapa menganggap keberadaannya dapat berakibat negatif karena beresiko merusak kapal, struktur pengilangan minyak lepas pantai, dan juga jalur pipa besi bawah laut. Akan tetapi ada yang berpendapat kalau bakteri yang sama dapat dimanfaatkan untuk mempercepat degradasi limbah logam dan bangkai kapal yang mengotori ekosistem laut. Penemuan H. titaniceae juga menginspirasi para ilmuwan untuk mengembangkan pelapis tubuh kapal untuk melindungi dari kontaminasi mikroorganisme.

Sedangkan untuk sang raksasa Titanic sendiri, keberadaan H. titaniceae seperti bom waktu. Selain karena arus laut yang kuat dan reaksi korosi, aktivitas H. titaniceae mempercepat kapal legendaris ini hancur berkeping-keping. Pada akhirnya para ilmuwan berpacu dengan waktu berusaha untuk menyelamatkan bangkai kapal bersejarah ini sebelum hilang karena Titanic adalah warisan budaya yang tak ternilai dan saksi bisu perkembangan teknologi di eranya.

Other articles you may like:

Tags:

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment





x