Makhluk Purba Nan Panjang Umur
Kalau kita bayangkan, di dasar laut saja oksigen dan cahaya matahari sudah minim, bagaimana pula dengan kedalaman 20 m di bawah dasar laut (sub-permukaan)? Cahaya matahari sudah tentu tidak akan tembus, oksigen dan sumber nutrien pun sangat-sangat minim. Kondisi ini bisa dibilang sangat tidak memungkinkan untuk adanya kehidupan. Tapi sang bakteri dapat bertahan hidup, mereka mampu memanfaatkan oksigen dengan sangat-sangat efisien, konsekuensinya mereka hidup sangat-sangat lambat, hingga para ilmuwan awalnya pernah mengabaikan bakteri seperti ini yang mereka temukan tahun 1990-an karena dianggap sudah mati. Mereka sangat menghemat energi hingga untuk menggerakkan flagella (semacam alat gerak bakteri) saja mereka tidak mampu, mereka dalam kondisi ‘idle’ dan mendekati batas minimum kehidupan. Demikian diungkapkan Hans Røy, ilmuwan di Aarhus University yang menemukan bakteri ini dan mempublikasikannya di Jurnal Science edisi 17 Mei 2012.
Penelitian ini adalah bagian dari proyek Røy yang mengamati organisme yang hidup di sedimen lautan yang jumlahnya mencapai 90% dari mikroba di dunia. Ia dan tim berlayar sepanjang ekuator menuju arah barat dari pulau Galapagos, kemudian berbelok ke utara menuju lokasi kumpulan arus berputar yang disebut Gyre Pasifik Utara. Sepanjang perjalanan mereka berhenti di 9 titik dan mengebor dasar lautan untuk mengumpulkan sedimen berbentuk silinder sedalam 28 meter. Ajaibnya di wilayah Gyre ini oksigen masih tersedia hingga kedalaman 30 meter walau dalam jumlah yang ekstrim sedikit.
Si bakteri purba tadi –menurut Røy– hanya memanfaatkan 0.001 femtomol atau 1 x 10-18 mol oksigen per hari! Sebagai perbandingan, jika bakteri sedimen permukaan dimasukkan ke dalam wadah tertutup maka mereka akan menghabiskan semua oksigen dalam beberapa menit saja, sedangkan sedimen sub-permukaan akan perlu waktu 1000 tahun hanya untuk mengetahui bahwa oksigennya sudah berkurang.
Røy sedang mempelajari mekanisme metabolisme yang ekstrim lambat ini, semua metode yang telah ia coba mementahkan semua dugaannya. Arthur Spivack dari University of Rhode Island yang tidak terlibat dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa temuan ini memiliki implikasi akan potensi kehidupan lain di daerah yang sangat miskin sumber kehidupan seperti sub-permukaan planet Mars.
Selain itu masih ada misteri yang belum dipecahkan oleh Røy, yaitu umur si bakteri purba tersebut, ia menduga umurnya bisa ribuan tahun, bahkan lebih. “Jika mereka tumbuh begitu lambat dan mereka tetap hidup, berarti mereka tidak akan mati begitu cepat,” ungkapnya.
Dunia memang penuh misteri dan keajaiban Allah, dan keajaiban luar biasa ini ternyata ada pada makhluk bersel tunggal yang senantiasa kita pandang sebelah mata (lewat mikroskop maksudnya
).
Sumber:
- The Scientist
- H. Røy et al., “Aerobic microbial respiration in 86-million-year-old deep-sea red clay,” Science doi:10.1126/science.1219424, 2012.
Other articles you may like:
- Menyingkap Kehidupan di Luar Teori Dasar
- ‘Bangkit dari Kubur’ setelah 120.000 Tahun
- Sistem Imun Bakteri; Belajar dari Serangan Musuh
- Quorum Sensing; Hidup Bermasyarakat Ala Bakteri
- Quorum Sensing (A Video Animation)
- Materi Presentasi Microarrays
- Biologi Sel dan Bhinneka Tunggal Ika



















2 Comments
saya liat mikroskop dgn 2 mata..^^
walaupun sekarang mikroskop modern udah yang binokuler, tetep aja kebiasaan sebelah mata susah dihilangin, hehe