Quorum Sensing: Mencegah Kudeta Bakteri
Kudeta tidak hanya bisa dilakukan oleh kelompok separatis..! Mikroorganisme seperti visrus dan bakteri juga bisa melakukannya, bahkan dengan cara yang lebih efektif dari kelompok separatis tersebut!
Tidak percaya..? silahkan saja baca artikel ini.. he.. he..
Sering kita baca berita bahwa tidak semua kudeta berhasil dengan baik, banyak yang gagal dan bahkan menghancurkan kelompok tersebut. Tapi sepertinya hal ini tidak berlaku untuk bakteri patogen. Cara mereka melakukan kudeta melalui tahap persiapan yang “sangat matang”. Hal ini bisa terjadi karena mekanisme quorum sensing, dimana bakteri patogen itu bisa mengetahui tingkat populasi mereka melalui sinyal dari autoinducer yang mereka keluarkan. Ketika populasinya sudah cukup optimal untuk melakukan “kudeta” maka dengan serentak mereka akan merubah regulasi genetiknya dan menjadi bersifat virulen. Biasanya kalo hal ini sudah terjadi, maka sel atau tubuh inang sudah tidak mampu lagi untuk bertahan, sehingga bisa mengakibatkan kematian. Sungguh cara berdemo dan kudeta yang sangat efektif!.
Keefektifan mekanisme quorum sensing ini sangat berbahaya dan bisa menimbulkan bencana akibat infeksi bakteri patogen. Untuk lebih jelasnya tentang quorum sensing ini bisa anda baca pada artikel blog sebelumnya: quorum sensing: hidup bermasyarakat ala bakteri.
Mengingat dampak negatif yang ditimbulkan oleh mekanisme quorum sensing ini, sekarang banyak sekali digalakkan penelitian untuk mencegah quorum sensing terjadi.
Sejauh ini, antibiotik dan desinfektan merupakan cara lama yang sudah tidak efektif untuk mencegah penyakit yang disebabkan bakteri patogen ini. Sudah banyak bakteri patogen yang tahan bahkan kebal terhadap antibiotik dan desinfektan. Oleh sebab itu temuan tentang mekanisme quorum sensing ini juga menjadi keuntungan buat kita untuk menemukan cara lain mencegah terjadinya sifat patogen pada bakteri berbahaya tersebut.
Perusakan sistem quorum sensing diharapkan mampu menjadi strategi efektif untuk menghilangkan patogenitas bakteri berbahaya. Strategi perusakan mekanisme quorum sensing ini bisa dilakukan dengan beberapa cara, pada tahap yang berbeda-beda, misalnya:
- Menghambat biosintesa senyawa autoinducer, sehingga tidak pernah terjadi quorum sensing karena autoinducer tidak diproduksi, biasanya ini dilakukan pada tahap ekpresi genetik, dimana ada hambatan dalam sintesa RNAnya; “ribonucleic-acid-III-inhibiting peptide” termasuk kategori ini.
- Inaktivasi senyawa autoinducer, senyawa autoinducer tetap dapat diproduksi tapi menjadi tidak aktif.
- Pemberian atau penerapan senyawa antagonis quorum sensing, seperti halogenated furanones, dan beberapa senyawa serupa yang ditemukan dalam tumbuhan dan alga.
- Degradasi autoinducer, senyawa autoinducer diproduksi, tetapi segera didegradasi sehingga tidak pernah terjadi quorum sensing. Degradasi ini dilakukan oleh bakteri laktonase anda acylase (acyl-homoserine lactones merupakan salah satu senyawa autoinducer)
- Pemberian agonist quorum sensing, yang merupakan senyawa yang bisa mengikat atau merubah struktur autoinducer menjadi tidak aktif.
Penelitian menunjukkan adanya indikasi bahwa metoda tersebut berpotensi memerangi infeksi mikroorganisme patogen dengan menghancurkan mekanisme quorum sensing sehingga bakteri tidak bersifat patogen.
Diharapkan dengan pendekatan studi seperti di atas, akan segera ditemukan formulasi obat untuk menanggulangi penyakit yang diakibatkan oleh serangan bakteri patogen tersebut.
Jadi, kembali ke laptop.. kalo mau melakukan kudeta, belajar aja dulu dari bakteri.. OK?
Other articles you may like:
- Quorum Sensing; Hidup Bermasyarakat Ala Bakteri
- Quorum Sensing (A Video Animation)
- Mikroba Ternyata Lebih Pintar dari yang Kita Duga
- Antibiotik yang Digunakan dalam Biologi Molekular
- Bakteri Penghasil Plastik
- Sistem Imun Bakteri; Belajar dari Serangan Musuh
- Susu Berbakteri: Keragaman Intra-spesies dan Tingkah Laku Bakteri



















2 Comments
artikelnya unik sekali, terima kasih sudah mau menaruhnya disini
terimakasih atas komentarnya, saya mencoba membuat artikel yang bisa dimengerti semua kalangan, kalo bahasanya pake bahasa standar sekolahan malah gak asik..