Archive for: influenza

Heboh Serangan Flu Babi (Influenza A H1N1)

vaccine_h1n1Akhir April 2009 dunia dihebohkan dengan terjadinya serangan swine flu atau flu babi di wilayah Meksiko. Selain karena jumlah korban yang terus meningkat, penyebaran penyakit virus ini pun tergolong cepat. Hingga tanggal 27 April ini Yahoo! News melansir bahwa hampir 2000 orang di Meksiko diduga terinfeksi flu babi dan 149 diantaranya meninggal dunia. Di Amerika Serikat, CDC melaporkan bahwa kasusnya membengkak menjadi 40, yaitu di New York, Ohio, Kansas, Texas dan California. Total seluruh dunia ada 73 kasus, termasuk enam di Kanada, satu di Spanyol dan dua di Skotlandia. Dan jumlah ini dikhawatirkan akan terus bertambah mengingat belum ada tanda-tanda serangan virus ganas ini akan segera berakhir.

Guna menyikapi hal tersebut, WHO sudah menaikkan tingkat kewaspadaan menjadi Fase 4 yang berarti bahwa dimungkinkan adanya penularan virus penyebab outbreak antar manusia setidaknya di satu negara. Beberapa hari berikutnya status tersebut kembali naik menjadi fase 5 dari 6 fase pandemic. Fase 5 berarti penyebaran virus dari manusia ke manusia di dua atau lebih negara yang berada dalam wilayah WHO. Meskipun tentu saja kita berharap serangan virus ini tidak sampai naik tingkat lagi seperti yang dikhawatirkan.

Virus Flu Babi, Punya Unsur Genetik Baru

Sebelum membahas lebih detail virus flu babi, ada baiknya Anda membaca artikel “Mengenal Virus Influensa” lebih dulu.

Dari tiga kelompok Influenzavirus yang biasa menyerang manusia, hanya Influenzavirus A (umum) dan C (jarang) yang biasa menyerang babi. Influenzavirus A yang menyerang pun hanya subtipe H1N1, H1N2, H3N1, H3N2 dan H2N3. Dan yang sekarang ini bikin heboh adalah subtype H1N1 yang diduga sudah mengalami modifikasi unsur-unsur genetik. Hii, serem gak sih?

Eh, ngomong-ngomong unsur genetik itu apa ya? Begini, seperti kita ketahui setiap makhluk hidup memiliki unsur genetik (biasanya DNA) yang memiliki peran sangat penting dalam kehidupan, misalnya ‘menentukan’ bentuk tubuh manusia itu seperti apa, atau bagaimana bentuk dan warna bunga pada tumbuhan, dll. Virus flu sedikit berbeda, unsur genetiknya adalah RNA, bukan DNA. Unsur genetik pada virus flu terutama berperan untuk mengatur bagaimana virus tersebut dapat menginfeksi sel pada tubuh inangnya, bagaimana dia memperbanyak diri, bagaimana cara dia keluar dari sel inang untuk menyerang sel-sel lainnya dan bagaimana dia bisa bertahan dari serangan antibodi yang ada pada si inang tersebut. Itu semua diatur oleh unsur-unsur genetik berupa RNA tadi.

[simage=183,288,y,left]

Genetic Origin of the 2009 swine flu virus

  • HA — Hemagglutinin — swine (H1) — North America
  • NA — Neuraminidase — swine (N1) — Europe
  • PA — Polymerase Acid — avian — North America
  • PB1 — Polymerase Basic Subunit 1 — human — 1993 H3N2 strain
  • PB2 — Polymerase Basic subunit 2 — avian — North America
  • NP — Nucleoprotein — swine — North America
  • M — Matrix protein M1, M2 — swine — Eurasia
  • NS — Non-structural proteins NS1, NEP — swine — North America

Source: La fiche d’identité d’un virus inédit, Lemonde.fr.

Virus flu babi yang diisolasi dari pasien di US ditemukan terbuat dari unsur-unsur genetik yang berasal dari empat virus flu yang berbeda yaitu campuran dari virus flu babi Amerika Utara, avian flu Amerika Utara, flu manusia dan flu babi yang biasanya ditemukan di Asia dan Eropa, suatu campuran sekuen genetik yang tidak lazim. Dan virus yang baru ini nampaknya merupakan hasil ‘reassortment‘ dari virus flu manusia dan flu babi, dalam keempat strain yang berbeda dari subtipe H1N1. Karakterisasi genetic awal mengungkap bahwa gen hemagglutinin (HA) mirip dengan gen HA pada virus flu babi yang ada di USA sejak tahun 1999, sedangkan gen neuraminidase (NA) dan gen protein matriks (M) merupakan versi resemble yang ada pada isolate flu babi Eropa. Enam gen dari flu babi Amerika sendiri merupakan campuran virus flu babi, flu burung dan flu manusia. Mengingat virus dengan makeup genetik semacam ini belum pernah ditemukan sebelumnya, sehingga tidak ada sistem pengawasan nasional resmi untuk menentukan virus apa yang bersirkulasi pada babi di Amerika.

Mungkin jadi pertanyaan, kok bisa materi genetik virus tersebut saling ‘bercampur’ membentuk suatu strain virus yang baru, apalagi disinyalir berasal dari tiga benua yang secara geografis berjauhan? Memang begitulah virus, diantara makhluk-makhluk lain viruslah yang paling mudah mengalami mutasi (perubahan) unsur genetik. Mungkin ini merupakan salah satu strategi virus tersebut untuk bertahan hidup ditengah gempuran sistem imun si inangnya, jadi dengan bermutasi secara cepat dia akan lebih sulit dikenali oleh sistem imun tubuh inang.

Kembali ke virus baru nan heboh ini, karena virus ‘gado-gado’ ini belum pernah diisolasi dari hewan, maka World Organisation for Animal Health (OIE) mengajukan nama “North-American Influenza” alias Influenza Amerika Utara, lagipula secara historis virus ini memang pertama kali ditemukan di Amerika Utara. Belakangan WHO menggunakan nama Virus Influenza A (H1N1).

Tanda-tanda dan gejala

[simage=184,288,y,left]

Menurut CDC, gejala penyakit flu babi pada manusia mirip dengan gejala flu pada umumnya. Gejalanya berupa:

  • demam
  • batuk
  • nyeri tenggorokan
  • sakit badan
  • sakit kepala
  • kedinginan
  • merasa lelah
  • Outbreak 2009 ini menunjukkan adanya peningkatan persentase pasien yang dilaporkan mengalami diare dan muntah-muntah.

Karena gejala yang tidak spesifik hanya untuk flu babi inilah maka untuk melakukan diagnosa diferensial dugaan flu babi memerlukan tidak hanya gejala saja tapi juga harus ada kemiripan yang tinggi dengan flu babi berdasarkan sejarah kontak orang tersebut.

Misalnya saja selama wabah flu babi 2009 di USA, CDC menganjurkan para dokter untuk “mempertimbangkan infeksi flu babi dengan diagnosis diferensial terhadap pasien dengan sakit pernafasan febrile akut baik yang pernah kontak dengan orang yang dikonfirmasi flu babi, atau yang pernah berada di negara bagian yang dilaporkan terkena wabah flu babi atau di mexico selama 7 hari sebelum terserang penyakit.” Diagnosis yang menyatakan konfirm flu babi memerlukan pengujian laboratorium terhadap sampel-sampel sistem pernafasan (swab dari hidung dan tenggorokan).

Pencegahan

Pencegahan flu babi memiliki tiga komponen: pencegahan pada babi, pencegahan penularan ke manusia, dan pencegahan penyebarannya diantara manusia.

Pencegahan pada babi

Flu babi telah menjadi masalah yang lebih besar pada dekade terakhir ini karena evolusi yang terjadi pada virus telah menyebabkan respon yang tidak konsisten terhadap vaksin-vaksin tradisional. Vaksin flu babi komersial yang standar efektif dalam mengendalikan infeksi ketika strain virusnya cukup match untuk mendapatkan cross-proteksi yang signifikan, dan vaksin-vaksin custom (autogenous) yang dibuat dari virus spesifik yang diisolasi diciptakan dan digunakan dalam kasus yang lebih rumit.

Strategi vaksinasi saat ini untuk pengendalian dan pencegahan Swine Influenza Virus (SIV) pada peternakan babi belum tentu 100% efektif, pasalnya daya proteksi vaksin sangat bergantung pada kemiripan antara virus vaksin dan virus epidemik.

Pencegahan transmisi dari babi ke manusia

Transmisi dari babi ke manusia terjadi pada umumnya di peternakan babi, tentu saja akibat kontak yang cukup dekat antara manusia dan babi hidup. Pada dasarnya strain virus flu babi  tidak dapat menginfeksi manusia, namun kadang-kadang transmisi ini bisa juga terjadi, sehingga para peternak atau dokter hewan dianjurkan untuk memakai masker dan sarung tangan ketika berurusan dengan hewan yang terinfeksi. Cara paling umum untuk membatasi transmisi dari hewan ke manusia yaitu dengan penggunaan vaksin.

Pencegahan penyebaran pada manusia

Influenza menyebar diantara manusia melalui batuk atau bersin dan sentuhan pada sesuatu yang mengandung virus lalu menyentuh hidung atau mulutnya sendiri. Flu babi tidak dapat menyebar melalui produk-produk babi, karena virus tersebut tidak berpindah melalui makanan. Flu babi pada manusia paling mudah menular selama lima hari pertama sakit meskipun beberapa orang –umumnya anak-anak– bisa terus mudah menular hingga selama 10 hari. Diagnosis dapat dilakukan dengan mengirimkan sebuah spesimen –yang dikumpulkan selama lima hari pertama– ke CDC untuk dianalisis.

Rekomendasi untuk mencegah penyebaran virus diantara manusia termasuk penggunaan pengendalian infeksi standar terhadap influenza. Jadi sering-seringlah mencuci tangan dengan sabun dan air atau pencuci tangan berbahan dasar alkohol, khususnya jika setelah berada di tempat-tempat umum. Meskipun vaksin influenza trivalen saat ini nampaknya tidak memberikan perlindungan terhadap strain vaksin baru H1N1, vaksin baru untuk melawan strain baru ini sedang dikembangkan dan bisa segera siap kira-kira di bulan Juni 2009 ini.

Para ahli sependapat bahwa mencuci tangan dapat mencegah infeksi virus, termasuk virus flu biasa dan flu babi yang baru. Influenza dapat menyebar melalui batuk atau bersin, akan tetapi meningkatnya jumlah korban memperlihatkan bahwa partikel-partikel virus yang kecil itu dapat tetap hidup di atas meja, pesawat telepon dan permukaan-permukaan lain serta ditransfer melalui jari-jari ke mulut, hidung atau mata. Pembersih tangan berupa gel atau busa berbahan dasar alkohol dapat menghancurkan virus dan bakteri dengan baik. Setiap orang yang memiliki gejala mirip flu seperti demam mendadak, batuk atau nyeri otot harus menghindari tempat kerja atau transportasi publik dan harus menemui dokter untuk diperiksa.

Menjaga jarak sosial merupakan taktik pencegahan lainnya. Artinya Anda harus menjaga jarak dari orang lain yang mungkin terinfeksi, hindari kumpul-kumpul dengan banyak orang, tidak terlalu banyak berkeliaran di tempat kerja, atau mungkin sebisa mungkin tetap di rumah jika infeksi sudah menyebar di masyarakat sekitar.

Pengobatan

[simage=186,144,y,left]
FDA telah mengizinkan penggunaan darurat beberapa perangkat diagnosis dan pengobatan untuk mengidentifikasi dan menangani virus flu babi pada keadaan tertentu, yaitu penggunaan obat antiviral Relenza dan Tamiflu, serta pengujian diagnostik panel menggunakan rRT-PCR.

CDC merekomendasikan penggunaan tamiflu (oseltamivir) atau Relenza (zanamivir) untuk pengobatan dan/atau pencegahan infeksi virus flu babi. Akan tetapi kebanyakan orang yang terinfeksi virus bisa sembuh tanpa memerlukan penanganan medis maupun obat-obatan antiviral. Virus isolat dari meksiko dan USA yang telah diuji ternyata resisten alias tahan terhadap amantadine dan rimantadine. Obat antiviral dalam hal ini dapat menurunkan rasa sakit dan membuat penderita lebih baik dalam waktu yang lebih singkat dan mencegah komplikasi flu yang serius. Sebaiknya obat ini segera dikonsumsi sejak dua hari setelah sakit (terkena gejala).

Stok Antiviral

Persediaan obat antiviral harus terus dipantau oleh setiap negara sebagai upaya prefentif. Pantau juga tanggal kadaluwarsa obat tersebut karena biasanya obat tersebut expire dalam waktu lima tahun setelah diproduksi.

Siap Siaga

Tak ada salahnya kita bersiap siaga meskipun sampai saat ini belum ditemukan kasus infeksi virus Influenza A (H1N1) di Indonesia dan berharap semoga wabah ini tidak terus menggila dan mampir di sekitar kita. Dalam hal ini pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama dengan baik. Pemerintah harus memberikan penyuluhan publik mengenai infeksi virus ini, menyiapkan strategi-strategi pencegahan dan penanganan darurat, menjaga stok obat antiviral, menyiapkan rumah sakit atau puskesmas rujukan. Masyarakat pun tidak perlu panik, cukup dengan menjaga dan melaksanakan gaya hidup bersih dan sehat, Insya Allah kita akan terbebas dari infeksi tersebut (baca selengkapnya artikel Agar tetap Sehat dan Terbebas dari Flu Babi).

Sumber: CDC, Wikipedia dan sumber-sumber lainnya.

Agar tetap Sehat dan Terbebas dari Flu Babi

stay-healthMeskipun belum ada kasus infeksi flu babi pada manusia di Indonesia, namun tak ada salahnya kita melakukan tindakan antisipatif untuk mencegah hal-hal buruk menimpa kita. Berikut ini adalah rekomendasi CDC Amerika untuk menjaga agar tubuh kita tetap sehat.

+Continue Reading

Bagaimana Virus Flu Babi Pandemik Bisa Mematikan?

Dua kelompok ilmuwan berhasil mengungkap bagaimana protein virus flu babi H1N1 terikat pada reseptor korbannya.

swine-flu-virus-image

Ferret (Image from foreignpolicyblogs.com)

Saat ini penyakit flu babi (Influenza H1N1) telah dinyatakan sebagai pandemik (level 6) oleh WHO sejak tanggal 11 Juni 2009 yang lalu. Penyebarannya kini telah dilaporkan di lebih dari 70 negara (CDC, 7 Juli 2009). Bahkan di Indonesia pun penyakit ini sudah mulai bercokol, awalnya ‘dibawa’ oleh warna negara asing yang sedang berkunjung ke Indonesia, dan kini sudah ditemukan 28 kasus positif flu babi (Media Indonesia Online, 7 Juli 2009).

Kasus flu babi (H1N1) ini memang pada umumnya masih tergolong penyakit ‘sedang’, tidak terlalu mematikan. Berdasarkan data WHO per tanggal 29 Juni 2009, terjadi 311 kematian dari 70.893 kasus positif flu babi atau sekitar 0.44% (dibanding dengan flu burung H5N1 yang mencapai 80%). Namun kini mulai dilaporkan adanya peningkatan ‘keganasan’ sang virus, tingkat kematian akibat virus H1N1 mulai meningkat dan semakin cepat yang nampaknya akibat aktifitas viral pneumonia. Dan kini dua kelompok ilmuwan telah menemukan titik terang mengapa virus ini semakin ganas, dan ini ada hubungannya dengan cara virus terikat dalam tubuh penderita.

Sesuai namanya, virus flu babi H1N1 ini berasal dari babi, sehingga ia terikat dengan baik pada molekul-molekul permukaan sel dalam sistem pernafasan mamalia lain, termasuk manusia. Tetapi ada sedikit perbedaan cara protein-protein flu terikat pada reseptor-reseptor ini.

ferret

Image from howtotakecareofferrets.com.

Dua tim terpisah — yang pertama dipimpin oleh Ron Fouchier dari Erasmus University di Rotterdam, Belanda, dan yang kedua oleh Terrence Tumpey dari Centres for Disease Control (CDC) Atlanta, Georgia, USA — keduanya melaporkan bahwa dibanding virus flu biasa, virus pandemik ini terikat lebih dalam pada sistem pernafasan ferret (sejenis musang), binatang yang lebih mirip dengan manusia ketika ia terserang flu.

Virus dari famili H1N1 yang sama dengan virus flu pandemik, telah bersirkulasi sebagai flu musiman biasa sejak 1977. Kedua kelompok peneliti tadi menemukan bahwa virus musiman terikat hampir secara eksklusif pada sel dalam hidung ferret. Sementara itu H1N1 pandemik terikat lebih dalam, di batang tenggorokan paru-paru, bronchi dan bronchiole. Virus pandemik juga bereplikasi lebih banyak, dan menyebabkan lebih banyak kerusakan, meskipun tidak ada ferret yang sakit parah.

Risiko Pneumonia

Setiap individu memiliki reaksi yang berbeda terhadap virus. Virus yang terikat lebih dalam di paru-paru dapat memicu potensi pneumonia yang fatal jika orang yang terinfeksi mengalami peradangan hebat sebagai respon terhadap virus tersebut. Ini dapat dilihat pada kasus pandemik H1N1 tahun 1918 yang menyebabkan viral pneumonia yang sangat cepat, bisa membunuh dalam hitungan jam. Menurut Fouchier, pengikatan dan replikasi virus H1N1 pandemik pada sistem pernafasan yang lebih dalam pada ferret cocok dengan viral pneumonia yang teramati pada manusia.

Kelompok peneliti dari USA juga menemukan bahwa pengikatan terjadi pula dalam usus, ini menjelaskan terjadinya rasa mual dan muntah-muntah pada beberapa kasus flu pandemik. Kedua tim menyimpulkan bahwa virus ini dapat beradaptasi lebih ‘baik’ pada manusia, sehingga menyebabkan penyakit yang lebih parah.

Meskipun ini merupakan hasil penelitian ilmiah, namun kita berharap pandemik ini akan segera berakhir dan tidak akan jatuh lebih banyak korban lagi.

Referensi Jurnal: Science (DOI: 10.1126/science.1177238, DOI: 10.1126/science.1177127)

Sumber: NewScientist

Obat Antiviral untuk Flu Babi (Influenza A H1N1)

Diagram of Influenza Virus

Diagram Virus Influenza

Obat Antiviral

Obat antiviral adalah obat-obatan (pil, cairan atau obat hirup) yang memiliki aktifitas melawan virus flu, termasuk virus Influenza A (H1N1) yang sekarang sedang ngetop. Obat ini bisa digunakan baik untuk pengobatan maupun pencegahan infeksi virus Influenza A (H1N1). Tapi tentu saja pemberian obat ini harus berdasarkan resep dokter. Dan harap diingat bahwa obat antiviral influenza hanya mempan untuk virus Influenza, tidak memberikan efek untuk virus lainnya meskipun gejala yang ditimbulkan mirip flu.

Setidaknya ada 4 obat antiviral influenza yang dapat digunakan, yaitu oseltamivir, zanamivir, amantadine dan rimantadine. Dari keempat obat itu, berdasarkan pengujian laboratorium hanya oseltamivir dan zanamivir yang nampaknya dapat digunakan untuk mengobati influenza A (H1N1) yang berasal dari Meksiko dan Amerika Utara, karena virus Influenza A (H1N1) ternyata sensitif terhadap keduanya. Sementara itu sang virus resisten alias tahan terhadap amantadine dan rimantadine.

Manfaat Obat Antiviral

Pengobatan

Jika Anda terserang flu, obat antiviral bisa membuat penyakit Anda berkurang dan membuat Anda merasa lebih baik lebih cepat. Obat ini juga mencegah komplikasi influenza yang lebih parah. Obat antiviral influenza akan lebih nyata khasiatnya jika dikonsumsi segera setelah penyakit menyerang (dalam waktu 2 hari), tetapi pengobatan harus terus dilakukan setelah 48 jam setelah gejala-gejala flu nampak, khususnya bagi para pasien yang dirawat di rumah sakit atau orang-orang yang beresiko tinggi terkena komplikasi terkait influenza.

Pencegahan

Obat antiviral influenza juga dapat diberikan untuk mencegah influenza kepada orang yang tidak sakit, tetapi telah atau mungkin berdekatan dengan orang yang terserang influenza A (H1N1), misalnya keluarga atau perawatnya.
Saat digunakan untuk pencegahan flu, obat antiviral memiliki efektifitas sekitar 70 – 90%. Lamanya waktu mengkonsumsi tergantung pada kondisi khusus orang tersebut.

Obat Antiviral Influenza di Pasaran

Dalam menghadapi wabah influenza A (H1N1) yang dikhawatirkan menjadi pandemi ini, otoritas kesehatan berbagai negara telah menyiapkan stok obat antiviral influenza. Obat-obatan tersebut adalah:

Tamiflu® (merek dagang dari Oseltamivir)

[simage=186,200,y,left] [simage=219,200,y,left]

Obat ini disetujui oleh CDC Amerika untuk mengobati dan mencegah infeksi virus influenza A maupun influenza B pada orang berusia satu tahun atau lebih.

Relenza® (merek dagang dari Zanamivir)

[simage=218,200,y,left] [simage=220,200,y,left]

Obat ini juga disetujui untuk mengobati infeksi virus influenza A dan influenza B pada orang yang berusia 7 tahun atau lebih, sedangkan jika digunakan untuk pencegahan bisa diberikan pada orang berusia 5 tahun atau lebih.

Obat antiviral influenza masih sangat mungkin berkembang mengingat virus influenza sangat mudah bermutasi membentuk varian virus influenza baru.

Fase Pandemi Influenza WHO (2009)

pandemicSeperti kita ketahui wabah flu babi yang bermula dari Meksiko kini telah ditetapkan oleh badan kesehatan dunia WHO sebagai fase 5 pandemi Influenza. Penyakit yang belakangan dinamai Influenza A (H1N1) sesuai dengan nama virus penyebabnya ini tinggal satu tingkat lagi untuk menjadi pandemi fase 6 alias fase tergawat. Mudah-mudahan kekhawatiran ini tidak sampai terjadi. Nah, tulisan berikut ini menjelaskan setiap fase pandemi menurut WHO.

Fase 1

Tidak dilaporkan adanya virus Influenza hewan yang bersirkulasi pada hewan yang menyebabkan infeksi pada manusia.

Fase 2

Sebuah virus Influenza hewan yang menjangkiti hewan-hewan peliharaan atau hewan liar diketahui telah menyebabkan infeksi pada manusia dan oleh karena itu ditangani dengan suatu penanganan khusus pandemik potensial.

Fase 3

Sebuah virus Influenza hewan atau virus ‘reassortant’ manusia-hewan telah menyebabkan kasus yang sporadis atau kluster-kluster kecil penyakit pada manusia, tapi belum menyebabkan penularan dari manusia ke manusia yang cukup untuk menimbulkan outbreak (wabah) di tingkat masyarakat.

Fase 4

Penularan — baik virus Influenza hewan atau virus Influenza ‘reassortant’ manusia-hewan– dari manusia ke manusia yang dapat menimbulkan outbreak (wabah) di tingkat masyarakat telah diverifikasi.

Fase 5

Penyebaran virus dari manusia ke manusia di dua atau lebih negara yang termasuk wilayah WHO.

Fase 6

Selain kriteria yang didefinisikan pada fase 5, virus yang sama juga menyebar dari manusia ke manusia di setidaknya satu negara lain di luar wilayah WHO.

Periode pasca puncak

Tingkat pandemi influenza di sebagian besar negara dengan pengawasan yang cukup telah turun hingga di bawah tingkatan puncak.

Periode pasca pandemi

Tingkat aktifitas influenza telah kembali ke tingkatan yang terlihat seperti influenza musiman di sebagian besar negara dengan pengawasan yang cukup.

Peringatan fase pandemi WHO saat ini adalah fase 5Peringatan fase pandemi WHO saat ini adalah fase 5

x