Archive for: pakan

Efisiensi Pakan Ternak dengan Phytase

chickenDalam industri peternakan, pakan ternak memberi kontribusi 50% sampai 80 % dari total biaya produksi. Oleh karena itu para peternak berupaya untuk melakukan berbagai usaha guna mengurangi biaya pakan dengan tidak melupakan kualitas ternak yang dihasilkan.

Pakan merupakan salah satu komoditi dari sub-sistem agribisnis hulu, atau dengan kata lain penyedia sapronak untuk sub-sistem budidaya ternak. Pakan merupakan faktor terpenting untuk menunjang budidaya ternak karena berimbas pada peningkatan bobot badan ternak dan performa ternak yang diinginkan. Peningkatan populasi, produksi daging, susu dan telur sebagai hasil ternak sangat tergantung dari penyediaan pakan yang baik dan berkualitas.

Enzim Phytase

Para ilmuan telah membuat satu feed supplement untuk unggas dan hewan ternak lainnya, yang tidak hanya meningkatkan asupan nutrisi, namun juga ramah lingkungan karena dapat mengurangi jumlah Phosphor yang lepas ke lingkungan.

Yang dimaksud dengan Feed supplement di atas sejatinya adalah enzim phytase. Enzim ini akan membantu hewan ternak mencerna lebih banyak phosphor yang terkandung dalam makanannya, terutama makananan yang berasal dari biji-bijian. Phosphor adalah mineral yang berperan dalam membentuk DNA, mineralisasi tulang, imunitas, fertilitas dan juga pertumbuhan.

Dua puluh tahun yang lalu, dua orang ilmuan, Ed Mullaney dan Jaffor Ullah adalah yang pertama kali mengenalkan enzim dari fungi, Phytase, yang dapat meningkatkan nutrisi, menghemat biaya pakan, dan mengurangi pencemaran phosphor dari peternakan. Mullaney, ahli genetik, dan Ullah, seorang biochemist, keduanya bekerja di Agriculture Research Center (ARS) di New Orleans.

Saat ini berdasarkan penemuan mereka telah banyak dikembangkan phytase komersial yang mempunyai aktivitas yang labih baik dan mampu bekerja sesuai kondisi di dalam sistem pencernaan hewan ternak.

Prinsip Kerja dan Keuntungan Phytase

Phosphor yang banyak terkandung dalam dedak dan biji-bijian, terikat secara kuat dalam suatu senyawa kimia sehingga sulit untuk dicerna. Phosphor yang terikat kuat di sebut sebagai phytat, merupakan zat anti-nutritive yang menyebabkan rendahnya nilai nutrisi dari pakan.

Dari total phosphor yang terkandung di dalam pakan, hanya sedikit yang dapat dimanfaatkan oleh hewan ternak, sisanya dibuang keluar bersama kotoran. Phosphor berlebih yang keluar ini dapat mencemari lingkungan (eutropication), yang jika masuk ke dalam perairan dapat mengakibatkan apa yang disebut ‘algal blooms‘, yaitu tumbuhnya alga secara luar biasa cepat yang dapat mencuri kandungan oksigen dalam air. Kurangnya kandungan oksigen akan menyebabkan ikan dan hewan air lainnya mati.

Selama ini, rendahnya tingkat kecernaan phosphor dalam pakan berbasis biji-bijian disiasati dengan penambahan phosphor anorganik untuk memenuhi kebutuhan phosphor hewan ternak. Salah satu yang sering digunakan adalah Di-calcium phosphate (DCP) atau Mono-calcium phosphate (MCP). Penambahan phosphate anorganik ini tentunya akan meningkatkan biaya produksi.

Sekarang ini phytase-pun hadir dalam berbagai pilihan sesuai dengan keperluan. Phytase yang tahan pada suhu tinggi, phytase yang optimum pada pH rendah sesuai pH dalam sistem pencernaan hewan ternak (pH 5,5), phytase yang dilapisi oleh semacam coating khusus agar tahan dan tidak mudah rusak oleh asam lambung, dan masih banyak lagi.

Sumber Protein Nabati Pengganti Tepung Ikan

Formula pakan tradisional baik itu untuk unggas ataupun ikan masih menggunakan tepung ikan sebagai sumber protein yang memang menjadi nutrisi utama bagi pertumbuhan hewan ternak. Kandungan tepung ikan dapat mencapai 40-45 %. Selain itu dalam formulasi biasanya ditambahkan minyak ikan sebesar 10- 15%. Ini mengindikasikan penggunaan tepung ikan sangat penting dalam industri pakan.

Diantara bahan-bahan lainnya, tepung ikan adalah bahan yang paling mahal. Nilai ekonomi yang tinggi dari tepung ikan dikarenakan tepung ikan menyediakan nutrisi yang mudah dicerna oleh hewan ternak. Namun penggunaan tepung ikan berlawanan dengan kebijakan penggunaan sumber akuatik yang berharga dan terbatas sebagai bahan pakan hewan. Padahal dunia sedang dikhawatirkan atas harga tepung ikan yang terus meningkat sebagai akibat dari peningkatan permintaan dunia akan tepung ikan, sementara sumber tepung ikan masih terbatas dan sulit diperoleh. Oleh karena itu hingga saat ini para ahli dan kalangan industri terus berusaha untuk mencari sumber protein baru yang dapat menggantikan tepung ikan.

Bungkil Kacang Kedelai (Soybean Meal)

Tidak seperti tepung dan minyak ikan, bungkil kacang kedelai/soybean meal (SBM) merupakan sumber global protein dan lemak yang sangat berlimpah. Penggantian tepung dan minyak ikan dengan SBM memberikan kemungkinan kestabilan harga pakan ternak di masa depan.

Bagaimanapun para peternak masih ragu untuk menggunakan produk SBM sehubungan dengan ketakutan turunnya palatabilitas dan kecernaan, pertumbuhan yang lambat, dan feed conversion rate (FCR) yang buruk. Sementara konsumen khawatir hal ini akan mengurangi kualitas daging ternak karena turunnya beberapa nutrisi penting, misalnya kandungan asam lemak tak jenuh omega 3 pada daging ikan laut.

Studi penggantian tepung ikan

Telah dilakukan studi oleh Sam Ceulemans dan Peter C dari INVE Aquaculture Nutrition, Belgia, untuk mengetahui pengaruh penggantian tepung dan minyak ikan dengan protein dan minyak nabati yang berasal dari produk SBM. Eksperiment dilakukan terhadap ikan Sparus aurata, salah satu spesies utama dari ikan laut yang hidup di kawasan Mediterania.

Studi dilakukan dengan memberi makan ikan Sparus aurata dengan pakan yang mengandung kadar protein 45% dan lemak 20%. Ada tiga perlakuan berbeda.

  • FM65. 65% sumber protein berasal dari tepung ikan, sisanya dari SBM dan 95% sumber lemak dari minyak ikan sisanya dari produk SBM.
  • FM50. 50 % sumber protein dan 75% sumber lemak didapat dari produk ikan.
  • FM35. 35% sumber protein dan 60% sumber lemak dari produk ikan.

Penggantian protein dan lemak dengan sumber nabati ini diseimbangkan dengan penambahan pemberian Lysisn dan Methionin, Phospor, dan zat penambah kecernaan.

Eksperimen

Eksperimen ini dilakukan pada sistem resirkulasi akuakultur indoor dengan menggunakan tank fiber silinder 18600 liter pada suhu 22 celsius dan salinitas 37 ppt.

Ikan dengan berat awal 29 gram sebanyak 40 ekor/tank, dan diberi makan selama 10 minggu. Tank dihubungkan dengan alat biofiltrasi. Cahaya diberikan selama 12 jam. Ammonia total dan kadar nitrogen dianalisa setiap 3 kali seminggu. Suhu dan oksigen terlarut di monitor setiap hari.

Hasil

Tiga pakan yang berbeda memperlihatkan hasil yang serupa tanpa perbedaan yang signifikan. Laju pertumbuhan spesifik (Spesific growth rate) dan FCR juga hampir sama. Juga tidak ada perbedaan mencolok pada indeks hepatosomatic dan viscerosomatic, atau pada hasil analisis proksimat pada komposisi liver dan fillet.

Tabel 1. Formula pakan untuk tiga komposisi pakan berbeda

FM65

FM50

FM35

South american fish meal (%)

45.3

34.8

24.4

Fish oil (%)

15

11.5

9.8

Defatted soybean meal (%)

18.3

22.5

35

Soya protein concentrate (%)

-

7.2

4.6

Corn gluten (%)

4

4

4.3

Wheat gluten (%)

3.8

1.1

1

Pea protein concentrate (%)

-

-

4.7

Rapeseed meal (%)

-

5.9

-

Soybean oil (%)

-

4

6

Wheat flour (%)

13.1

7

7

Vitamin/mineral premix (%)

0.5

0.5

0.5

Lysin (%)

-

0.1

0.15

Methionin (%)

-

0.1

0.1

Monocalcium phosphate (%)

-

0.2

0.4

Palatability/digestability enhancer (%)

-

1

2

Protein from marine origin (%)

65

50

35

Fat from marine origin (%)

95

73

60

Formulation cost (%)

100

93

85

Kesimpulan

Kesimpulan dari hasil ini adalah produk SBM dapat digunakan sebagai pengganti tepung dan minyak ikan sebagai sumber protein dan lemak.

Lampiran.

formulation

x