Archive for the ‘BioHealth’ Category

DNA Microarrays Slide (image from agilent.com)
Kontributor: Laora Ocktreya (Fakultas Teknobiologi Unika Atmajaya Jakarta)
Salah satu aplikasi DNA Microarrays adalah untuk mengamati perubahan tingkat ekspresi genetik dari berbagai gen secara bersamaan. Jumlah gen yang diamati bisa puluhan, ratusan bahkan ribuan. Contoh aplikasinya adalah untuk meneliti kanker payudara dan respon pasien akan terapi yang diberikan untuk mengobati penyakit tersebut. Dengan DNA Microarrays ini dokter dapat memprediksi respon atau ketahanan pasien terhadap pengobatan, terutama pada kemotrapi. +Continue Reading
Istilah pencarian terpopuler untuk artikel ini:

Susu Formula (image from indodaddy.com)
Prof. Antonius Suwanto, Ph.D.
Guru Besar Rekayasa Genetika
Institut Pertanian Bogor
Seorang peneliti IPB melaporkan keberhasilannya dalam mengisolasi sejumlah isolat Enterobacter sakazakii dari susu formula. Hasil penelitian ini mengundang perhatian media dan telah menjadi polemik tersendiri. Tulisan ini berusaha mengulas keragaman atau variasi dalam satu spesies bakteri dan bagaimana seharusnya kita menyikapi laporan tersebut.
+Continue Reading
Istilah pencarian terpopuler untuk artikel ini:

Stop Smoking!
Terdapat berbagai macam alasan orang untuk merokok. Entah itu dari diri sendiri, orang lain, atau lingkungan sekitar. Rokok sering kali dijadikan tujuan dari pelarian, sebagai tolak ukur kekerenan, menghangatkan kala kedinginan, atau sekedar “teman” dalam kesendirian. Beribu-ribu alasan orang untuk merokok, tapi hanya ada satu alasan kenapa orang membeli “lintingan” daun tembakau untuk dibakar dan dihirup: Nikotin.
+Continue Reading
Istilah pencarian terpopuler untuk artikel ini:

Awas, kuman berbahaya mengincar Anda (Image from www.dreamstime.com)
Bekerja tanpa ditemani secangkir minuman favorit dan sepiring cemilan, rasanya kurang seru ya? Apakah Anda juga memiliki kebiasaan seperti ini? Membawa makanan dan minuman ke meja kerja dan menikmatinya selagi bekerja? Jika iya, maka berhati-hatilah! Jangan-jangan mikroorganisme tak kasat mata dalam jumlah besar sedang berpesta pora dan mengancam kesehatan Anda.
Kebiasaan seperti di atas, ditambah kebiasaan buruk lainnya bisa menyebabkan meja kerja, keyboard, mouse komputer, alat tulis, tumpukan kertas bahkan setiap sudut ruang kantor Anda dihuni oleh kuman penyebab penyakit. Ini bisa terjadi karena kita cenderung menganggap bahwa ruangan kantor adalah ruangan yang bersih, padahal belum tentu, jika jarang dibersihkan, jumlah bakteri yang ada di meja kerja bisa melebihi rata-rata jumlah bakteri di toilet lho! Gawat kan? Apalagi jika Anda berbagi ruangan dengan rekan-rekan lain dan mejanya saling berhimpit.
Sekarang coba kita ingat-ingat, seberapa sering kita membersihkan meja kerja? Apa kita hanya mengandalkan office boy saja? Yakin meja kita bakalan bersih? Jangan-jangan yang terjadi malah saling bertukarnya bakteri dari satu meja ke meja lain gara-gara cara membersihkan yang tidak tepat. Selain itu, bakteri bisa saling bertukar tempat dengan cara yang bahkan tidak kita pikirkan sama sekali, misalnya saat kita berjabatan tangan, menyentuh gagang pintu, berbagi mesin fax, telepon dan komputer. Kalau sudah begini, meja kita bisa menjadi tempat yang subur untuk bakteri berkembang biak.
Ngomong-ngomong masalah kebersihan di kantor, kebetulan saya menemukan serpihan artikel koran, meskipun sudah cukup lama, yaitu koran tahun 2004, namun artikelnya sangat menarik dan relevan. Ada sebuah studi yang dilakukan oleh Soap and Detergent Association di Washington sono, yang menemukan bahwa dari 1000 responden para pekerja kantoran, 32 persennya tidak selalu mencuci tangan sebelum makan siang, 85 persen pekerja makan di meja kerjanya, 45 persen pekerja pernah melihat rekan kerjanya keluar dari toilet tanpa mencuci tangan, 22 persen melihat seorang rekannya bersin, batuk atau menguap tanpa menutupi mulutnya, dan lebih dari setengahnya merasakan adanya korelasi antara kebersihan kantor dengan jumlah pekerja yang izin tidak masuk kerja karena sakit.
Menurut Charles Gerba, seorang profesor mikrobiologi lingkungan di University of Arizona yang meneliti bagaimana penyakit ditularkan, kuman pilek atau flu dapat bertahan di atas permukaan suatu benda hingga tiga hari lamanya. Jadi meskipun rekan kerja Anda sudah terbaring sakit di rumahnya karena flu, tapi ia sudah meninggalkan ‘buah tangan’ berupa sekumpulan kuman untuk Anda dan rekan-rekan lainnya.
Selain itu, studi yang dilakukan Gerba tersebut juga menemukan bahwa rata-rata setiap pekerja menyentuh 30 permukaan setiap menitnya, dari keyboard komputer ke mouse, lalu ke gagang telepon, dll. Sebuah meja kerja rata-rata menampung bakteri 400 kali lebih banyak dibanding rata-rata toilet!
Profesor Gerba merekomendasikan penggunaan hand sanitizer atau gel alkohol untuk membersihkan tangan, dan menyemprot atau mengelap meja kerja setiap hari menggunakan pembersih disinfektan untuk meningkatkan kebersihan kantor. Jika tidak, maka setiap hari jumlah bakteri di meja kita akan terus meningkat. Jadi itu semua bisa diatasi dengan gaya hidup yang bersih dan higienis.
Istilah pencarian terpopuler untuk artikel ini:

Image from www.virology.ws.
‘Kecerdasan’ virus flu babi H1N1 membuatnya bisa berkelit dari serangan Tamiflu, obat antiviral andalan untuk mengobati flu babi H1N1 yang kini sudah menjadi pandemik. Kasus ini telah ditemukan di Denmark, Jepang dan Hong Kong. Kasus di Denmark dan Jepang ditengarai terjadi akibat pemberian Tamiflu dosis rendah yang memicu resistensi virus, sedangkan kasus di Hong Kong terjadi pada penderita yang baru pulang dari Amerika dan belum pernah mengkonsumsi Tamiflu sebelumnya.
+Continue Reading
Istilah pencarian terpopuler untuk artikel ini:
Dua kelompok ilmuwan berhasil mengungkap bagaimana protein virus flu babi H1N1 terikat pada reseptor korbannya.

Ferret (Image from foreignpolicyblogs.com)
Saat ini penyakit flu babi (Influenza H1N1) telah dinyatakan sebagai pandemik (level 6) oleh WHO sejak tanggal 11 Juni 2009 yang lalu. Penyebarannya kini telah dilaporkan di lebih dari 70 negara (CDC, 7 Juli 2009). Bahkan di Indonesia pun penyakit ini sudah mulai bercokol, awalnya ‘dibawa’ oleh warna negara asing yang sedang berkunjung ke Indonesia, dan kini sudah ditemukan 28 kasus positif flu babi (Media Indonesia Online, 7 Juli 2009).
Kasus flu babi (H1N1) ini memang pada umumnya masih tergolong penyakit ‘sedang’, tidak terlalu mematikan. Berdasarkan data WHO per tanggal 29 Juni 2009, terjadi 311 kematian dari 70.893 kasus positif flu babi atau sekitar 0.44% (dibanding dengan flu burung H5N1 yang mencapai 80%). Namun kini mulai dilaporkan adanya peningkatan ‘keganasan’ sang virus, tingkat kematian akibat virus H1N1 mulai meningkat dan semakin cepat yang nampaknya akibat aktifitas viral pneumonia. Dan kini dua kelompok ilmuwan telah menemukan titik terang mengapa virus ini semakin ganas, dan ini ada hubungannya dengan cara virus terikat dalam tubuh penderita.
Sesuai namanya, virus flu babi H1N1 ini berasal dari babi, sehingga ia terikat dengan baik pada molekul-molekul permukaan sel dalam sistem pernafasan mamalia lain, termasuk manusia. Tetapi ada sedikit perbedaan cara protein-protein flu terikat pada reseptor-reseptor ini.

Image from howtotakecareofferrets.com.
Dua tim terpisah — yang pertama dipimpin oleh Ron Fouchier dari Erasmus University di Rotterdam, Belanda, dan yang kedua oleh Terrence Tumpey dari Centres for Disease Control (CDC) Atlanta, Georgia, USA — keduanya melaporkan bahwa dibanding virus flu biasa, virus pandemik ini terikat lebih dalam pada sistem pernafasan ferret (sejenis musang), binatang yang lebih mirip dengan manusia ketika ia terserang flu.
Virus dari famili H1N1 yang sama dengan virus flu pandemik, telah bersirkulasi sebagai flu musiman biasa sejak 1977. Kedua kelompok peneliti tadi menemukan bahwa virus musiman terikat hampir secara eksklusif pada sel dalam hidung ferret. Sementara itu H1N1 pandemik terikat lebih dalam, di batang tenggorokan paru-paru, bronchi dan bronchiole. Virus pandemik juga bereplikasi lebih banyak, dan menyebabkan lebih banyak kerusakan, meskipun tidak ada ferret yang sakit parah.
Risiko Pneumonia
Setiap individu memiliki reaksi yang berbeda terhadap virus. Virus yang terikat lebih dalam di paru-paru dapat memicu potensi pneumonia yang fatal jika orang yang terinfeksi mengalami peradangan hebat sebagai respon terhadap virus tersebut. Ini dapat dilihat pada kasus pandemik H1N1 tahun 1918 yang menyebabkan viral pneumonia yang sangat cepat, bisa membunuh dalam hitungan jam. Menurut Fouchier, pengikatan dan replikasi virus H1N1 pandemik pada sistem pernafasan yang lebih dalam pada ferret cocok dengan viral pneumonia yang teramati pada manusia.
Kelompok peneliti dari USA juga menemukan bahwa pengikatan terjadi pula dalam usus, ini menjelaskan terjadinya rasa mual dan muntah-muntah pada beberapa kasus flu pandemik. Kedua tim menyimpulkan bahwa virus ini dapat beradaptasi lebih ‘baik’ pada manusia, sehingga menyebabkan penyakit yang lebih parah.
Meskipun ini merupakan hasil penelitian ilmiah, namun kita berharap pandemik ini akan segera berakhir dan tidak akan jatuh lebih banyak korban lagi.
Referensi Jurnal: Science (DOI: 10.1126/science.1177238, DOI: 10.1126/science.1177127)
Sumber: NewScientist
Istilah pencarian terpopuler untuk artikel ini:
Usaha untuk membuktikan superioritas dan inferioritas dari ras manusia yang berbeda telah lama dipelajari dan memiliki sejarah yang panjang. Dari mulai justifikasi perbudakan, sampai pada kebijakan genetik Nazi Jerman. Studi modern tentang hubungan ras dan kecerdasan terus menimbulkan banyak kontroversi.
Pendapat yang mengatakan bahwa ras/etnis manusia yang berbeda memiliki struktur dan ukuran otak yang berbeda telah memacu studi dan penelitian yang intensif selama abad 19 sampai awal abad 20. Selama periode tersebut, penelitian dibidang ini seringkali digunakan untuk mengklaim bahwa satu ras lebih superior daripada ras lainnya, untuk selanjutnya menjustifikasi adanya kemiskinan dan ketakberadaban dari ras ‘inferior’.
Gaung nyata kontroversi terjadi pada tahun 1994, setelah buku best selling The Bell Curve, yang ditulis oleh Charles Murray dan Richard Hermstein, mengatakan bahwa terdapat perbedaan IQ antara ras manusia yang bersifat genetik (permanen) sehingga kesejahteraan manusia bisa ditingkatkan dengan meningkatkan kecerdasan generasi berikutnya dengan cara tidak mengawini/memilih perempuan yang ‘salah’ (dengan IQ rendah) untuk menghasilkan keturunan.
Akibat pernyataan ini, sang penulis buku banyak mendapat kritik dari ilmuan-ilmuan yang tidak sependapat. Salah satunya adalah ahli biologi evolusi, Stephen Jay Gould, yang mengkritisi test IQ yang dilakukan bersifat bias dan mengatakan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan adanya perbedaan kecerdasan diantara grup/ras manusia. Kecerdasan tidak bisa ditentukan hanya dari satu single faktor saja.
Penelitian lebih lanjut tentang hubungan ras manusia dan tingkat IQ mengungkapkan bahwa tingkat IQ yang tertinggi dimiliki oleh bangsa Asia dengan rata-rata IQ 106, kemudian bangsa kulit putih dengan rata-rata IQ 100, dan yang paling rendah adalah bangsa kulit hitam (negro) dengan rata-rata IQ 75-85.
Sementara studi dengan menggunakan MRI (Magnetic Resonance Imaging) menemukan hubungan antara besar volume otak dengan IQ. Otak yang lebih besar mengandung lebih banyak neurons dan synapses serta memproses informasi dengan lebih cepat. Orang-orang Asia mempunyai ukuran otak lebih besar 1 inchi kubik dari bangsa kulit putih dan 5 inchi kubik dari bangsa kulit hitam (http://en.wikipedia.org/wiki/Race_and_intelligence).

Cumulative IQ gaps by race or ethnicity based on 1981 U.S. distributions. According to these findings, WAIS IQs for Whites (mean = 101.4, SD = 14.7) were higher than those for Blacks (mean = 86.9, SD = 13.0); distributions for Hispanics (mean = 91) and East Asians (mean = 106, SD = not provided) are less precise because of overlap and small sample size. Based on Reynolds et al. 1987, p. 330
Namun hasil ini diragukan oleh banyak ilmuan. Mereka berpendapat adanya diskriminasi dan rasisme dalam studi yang dilakukan. Bangsa Afrika yang merupakan bangsa kulit hitam memprotes keras hasil tersebut.
Pada tahun 2002, Richard Lynn, seorang profesor psikologi di University of Ulster, menyulut api perdebatan baru dengan mempulikasikan bukunya, IQ and the Wealth of Nations. Ditulis bersama Tatu Vanhanen, seorang Professor ilmu politik di University of Tampere, Finland. Buku ini dikritik karena data berbagai negara yang dijadikan bahan studi adalah lemah dan kurang, tidak melihat keragaman budaya, dan salah dalam menganalisis. Negara yang mempunyai skor tertinggi lebih karena disebabkan proses edukasi.
Studi lain yang dilakukan para ahli untuk menunjukkan adanya hubungan antara genetik dengan kecerdasan (IQ) yaitu dengan melakukan tes IQ berulang-ulang, dan memeriksa kemiripan nilai akhirnya.
Satu orang dites IQ dua kali korelasinya 87%. Artinya, bahkan jika satu orang diuji IQ-nya dua kali, kemiripan IQ-nya tidak selalu sama — tetapi 87% menunjukkan kesamaan. Korelasi IQ dua saudara kembar setelur yang hidup serumah 86%. Kalau saudara kembar setelur tetapi tidak serumah 76%. Kalau saudara tidak setelur tapi serumah 55%. Dan kalau serumah tapi bukan saudara kandung 0%. Wow.. 0%! Nampaknya memang genetika memiliki kaitan dengan IQ.
Kecerdasan merupakan konsep yang sulit untuk didefinisikan. Beberapa mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan otak untuk berpikir secara logis dan belajar hal-hal baru. Dan beberapa lagi, terutama para ahli psikologi berpendapat bahwa kecerdasan terbagi menjadi beberapa subkategori, misalnya pertimbangan sebab akibat, problem solving, dan memori (daya ingat). Sehingga membuat suatu skala tertentu untuk mengukur kecerdasan adalah hal yang sulit.
Meskipun secara genetik seseorang memilki tingkat kecerdasan yang tinggi, namun asupan nutrisi, didikan orang tua dan lingkungan, budaya, semuanya ikut mempengaruhi perkembangan kecerdasannya.
Kecerdasan mungkin mirip dengan bakat. Seseorang yang mempunyai bakat tertentu, akan menjadi mahir di bidang tersebut asal bakatnya diasah dan dilatih secara terus menerus. Sebaliknya, bakatnya akan sia-sia bila tidak pernah diasah dan dilatih. Sebuah studi mengatakan bahwa kecerdasan ditentukan dari faktor genetik 50% dan lingkungan (budaya) 50%. I
ngin diskusi mengenai topik ini..? Silahkan bergabung melalui Facebook di Group ScienceBiotech.
Artikel terkait:
- Facebook ScienceBiotech Group (Discussion board)
- http://www.scq.ubc.ca/the-genetic-basis-of-intelligence/
- http://www.slate.com/id/2178122/entry/2178124/
- http://en.wikipedia.org/wiki/Race_and_intelligence
- http://www.scienceblog.com/cms/node/7669
- http://www.apa.org/journals/releases/amp60146 (pdf)
Istilah pencarian terpopuler untuk artikel ini:
Pertama dalam sejarah, seekor kera hasil rekayasa genetik berhasil menurunkan gen ‘alien’ (gen yang berasal dari organisme lain) kepada keturunannya melalui proses perkawinan.

Keturunan marmoset GMO yang dapat berpendar (Image: E.Sasaki et al. 2009).
Bagi para ilmuwan rekayasa genetika, hal ini merupakan terobosan luar biasa, sebab cara perkawinan normal tentu saja jauh lebih mudah dan murah ketimbang rekayasa genetika itu sendiri. Dengan keberhasilan ini, ilmuwan cukup membiakkan hewan hasil rekayasa genetik sehingga menghasilkan keturunan yang membawa gen ‘alien’ yang sudah berhasil diturunkan. Tidak perlu lagi membuat hewan rekayasa genetik yang baru.
Disamping itu, karena eksperimen ini dilakukan pada kera, tentu saja ia diharapkan akan menjadi model yang lebih baik ketimbang tikus hasil rekayasa genetik untuk meneliti penyakit-penyakit pada manusia. Mengingat kera memiliki kemiripan genetik yang lebih besar dengan manusia dibanding hewan-hewan percobaan lain.
Erika Sasaki dari The Central Institute for Experimental Animals di Kawasaki, Jepang inilah yang berhasil meyusupkan sebuah gen dari ubur-ubur yang membuatnya dapat berpendar hijau di bawah sinar UV.
Bagaimana gen ‘alien’ bisa masuk?
Seperti sudah dibahas sebelumnya di sini, gen yang kini jadi favorit para ilmuwan rekayasa genetika adalah gen GFP yang berasal dari ubur-ubur. Dengan gen ini, mereka bisa melacak keberhasilan penyusupan gen ‘alien’ yang disusupkan bersama dengan gen GFP. Dan karena gen GFP ini menghasilkan protein yang dapat berpendar, maka pengamatannya pun jadi mudah yaitu cukup dengan visualisasi di bawah sinar UV. Jika sel suatu organisme bisa berpendar, artinya gen GFP dan gen ‘alien’ sudah berhasil disusupkan ke dalamnya. Sungguh suatu cara yang amat cerdas.
Rekayasan genetik ini awalnya dilakukan pada sang induk, Sasaki menginjeksikan sebuah virus yang membawa gen GFP tadi ke dalam embrio kera. Kemudian embrio yang membawa gen GFP tersebut ditempatkan ke dalam tujuh induk betina. Empat di antaranya berhasil melahirkan dengan total 1 marmoset jantan dan 4 betina yang membawa gen GFP.
Selanjutnya, ketika bayi jantan yang kini membawa gen GFP sudah matang secara seksual, ia berhasil menjadi ayah bagi anaknya yang juga ternyata bisa berpendar hijau. Artinya gen GFP kini berhasil diturunkan melalui proses perkawinan. Salah satu bayi betina pun kemudian menghasilkan embrio In Vitro Fertilization (IVF) yang juga membawa gen GFP.
Harapan bagi Dunia Medis
Sebetulnya keberhasilan menyusupkan gen ‘alien’ ke dalam primata bukanlah yang pertama. Setahun sebelumnya, para peneliti melaporkan keberhasilannya memasukkan gen yang menyebabkan penyakit Huntington ke dalam macaca. Tapi bedanya gen tersebut diinsersi ke dalam telur, bukan ke embrio, sehingga akibatnya tidak dapat diturunkan.
Begitu pula yang terjadi pada kera rekayasan genetik pertama yang diberi nama ANDi. Lahir pada tahun 2001, ANDi merupakan hewan rekayasa genetik yang pertama lahir setelah 40 kehamilan hasil percobaan. Meskipun ia dinyatakan membawa gen GFP, tetapi ANDi tidak dapat berpendar karena nampaknya gen GFP-nya tidak bekerja dengan baik.
Sasaki memberi harapan baru bagi dunia medis. Ia mengatakan bahwa karena marmoset termasuk primata, maka kera ini dapat dijadikan model yang lebih baik untuk mempelajari penyakit-penyakit pada manusia, khususnya penyakit yang berhubungan dengan kondisi neurologis.
Bagaimana pendapat Anda?
Sumber: NewScientist.com
Istilah pencarian terpopuler untuk artikel ini:
Banyak diantara kita yang ketika kita terserang flu segera berfikir untuk meminum jus jeruk atau suplemen vitamin C. Tetapi apakah cara tersebut memang efektif untuk menyembuhkan flu?
Buah jeruk, grapefruits dan makanan lainnya yang mengandung vitamin C memang bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Tetapi setelah berbagai penelitian dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa vitamin C hanya memiliki sedikit efek untuk menyembuhkan ataupun mencegah penyakit flu.
Definisi Vitamin C
Vitamin C adalah asam ascorbat, namun untuk menghindari efek meningkatnya keasaman lambung, vitamin C sering disajikan dalam bentuk garam natrium ascorbat.

Asam Askorbat
Vitamin C Kurang Efektif Bagi Penderita Flu
Penelitian terbaru mengenai vitamin C, yang dipublikasi sekitar awal tahun ini dalam Cochrane Database of Systematic Reviews, mengevaluasi berbagai penelitian mengenai vitamin C selama beberapa dekade terakhir, yang melibatkan 11.000 subjek yang mengkonsumsi 200 mg atau lebih vitamin C setiap harinya. (Batas konsumsi vitamin C yang direkomendasikan oleh pemerintah Amerika adalah 60 mg per hari).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa vitamin C hanya sedikit berpengaruh untuk mengurangi atau mengobati sakit flu pada sebagian besar populasi. Tetapi bagaimanapun, hasil penelitian terhadap sebagian besar kelompok orang yang sering mengalami stress fisik (seperti atlet maraton, anggota militer dsb) menunjukkan bahwa vitamin C dapat menurunkan resiko mereka untuk terjangkit penyakit flu. Jika para atlet tersebut menkonsumsi vitamin C sesuai dosis yang dianjurkan setiap hari, maka kemungkinan mereka untuk terjangkit penyakit flu akan berkurang 50%.
Untuk orang-orang normal seperti kita, bagaimanapun juga meminum jus jeruk tidak akan terlalu banyak berpengaruh untuk mencegah penyakit flu. Seperti dikatakan Robert Douglas (Presiden The Public Health Association di Australia), “Jutaan orang yang mengkonsumsi vitamin C dengan dosis tinggi dengan asumsi bahwa akan mencegah penyakit flu sebenarnya tidak memiliki landasan yang kuat”.
Sejarah Hubungan Vit. C dengan Sakit Flu
Lalu bagaimana awal ceritanya sehingga vitamin C dihubungkan dengan obat flu?
Semuanya berawal dari Linus Pauling – seorang peraih Nobel Kimia yang hidup dari tahun 1901 hinga 1994. Pada tahun 1970, Pauling menulis buku “Vitamin C and the Common Cold,” yang mempopulerkan pernyataan bahwa jenis vitamin tersebut dapat mencegah seseorang terjangkit penyakit-penyakit ringan. Tetapi menurut Thomas Hager – penulis biografi Linus Pauling – “Buku tersebut diterbitkan dengan latar belakang sains yang kurang baik, dan tidak ada bukti yang mendukung pernyataan tersebut”.
“Pauling menerbitkan buku yang sangat berpengaruh tersebut tanpa menuliskan sedikitpun mengenai jurnal ilmiah di judul dan referensinya serta tanpa bukti yang cukup”, tambah Thomas Hager.
Mengkonsumsi Vit. C Kebiasaan Yang Baik
Walaupun efek dari vitamin C untuk menyembuhkan penyakit flu tidak ada, tetapi dokter hanya sedikit termotivasi untuk memperbaiki pernyataan mengenai vitamin C tersebut, dikarenakan konsumsi vitamin C bukanlah suatu ancaman bagi kesehatan publik. (Bahkan, beberapa penelitian telah menghubungkan sifat antioksidan dari vitamin C dengan mengurangi resiko kanker).
Lagi pula menurut Professor Arnold Monto – Professor Epidemiologi di University of Michigan’s School of Public Health, akan lebih baik untuk tidak membuat publik menjadi anti terhadap vitamin C, lagi pula konsumsi vitamin C tidak akan membahayakan kesehatan manusia. “Konsumsi vitamin C akan memberikan dampak baik, dan tidak akan berbahaya bagi kesehatan”, tambah Professor Monto.
Oleh karena itu, meskipun hubungan antara pencegahan penyakit flu dan vitamin C masih diragukan, namun kebiasaan mengkonsumsi vitamin C adalah baik mengingat sifat antioksidan dari vitamin C.
Istilah pencarian terpopuler untuk artikel ini:

Diagram Virus Influenza
Obat Antiviral
Obat antiviral adalah obat-obatan (pil, cairan atau obat hirup) yang memiliki aktifitas melawan virus flu, termasuk virus Influenza A (H1N1) yang sekarang sedang ngetop. Obat ini bisa digunakan baik untuk pengobatan maupun pencegahan infeksi virus Influenza A (H1N1). Tapi tentu saja pemberian obat ini harus berdasarkan resep dokter. Dan harap diingat bahwa obat antiviral influenza hanya mempan untuk virus Influenza, tidak memberikan efek untuk virus lainnya meskipun gejala yang ditimbulkan mirip flu.
Setidaknya ada 4 obat antiviral influenza yang dapat digunakan, yaitu oseltamivir, zanamivir, amantadine dan rimantadine. Dari keempat obat itu, berdasarkan pengujian laboratorium hanya oseltamivir dan zanamivir yang nampaknya dapat digunakan untuk mengobati influenza A (H1N1) yang berasal dari Meksiko dan Amerika Utara, karena virus Influenza A (H1N1) ternyata sensitif terhadap keduanya. Sementara itu sang virus resisten alias tahan terhadap amantadine dan rimantadine.
Manfaat Obat Antiviral
Pengobatan
Jika Anda terserang flu, obat antiviral bisa membuat penyakit Anda berkurang dan membuat Anda merasa lebih baik lebih cepat. Obat ini juga mencegah komplikasi influenza yang lebih parah. Obat antiviral influenza akan lebih nyata khasiatnya jika dikonsumsi segera setelah penyakit menyerang (dalam waktu 2 hari), tetapi pengobatan harus terus dilakukan setelah 48 jam setelah gejala-gejala flu nampak, khususnya bagi para pasien yang dirawat di rumah sakit atau orang-orang yang beresiko tinggi terkena komplikasi terkait influenza.
Pencegahan
Obat antiviral influenza juga dapat diberikan untuk mencegah influenza kepada orang yang tidak sakit, tetapi telah atau mungkin berdekatan dengan orang yang terserang influenza A (H1N1), misalnya keluarga atau perawatnya.
Saat digunakan untuk pencegahan flu, obat antiviral memiliki efektifitas sekitar 70 – 90%. Lamanya waktu mengkonsumsi tergantung pada kondisi khusus orang tersebut.
Obat Antiviral Influenza di Pasaran
Dalam menghadapi wabah influenza A (H1N1) yang dikhawatirkan menjadi pandemi ini, otoritas kesehatan berbagai negara telah menyiapkan stok obat antiviral influenza. Obat-obatan tersebut adalah:
Tamiflu® (merek dagang dari Oseltamivir)
Tamiflu
Tamiflu
|
Struktur Molekul Oseltamivir
Struktur Molekul Oseltamivir
|
Obat ini disetujui oleh CDC Amerika untuk mengobati dan mencegah infeksi virus influenza A maupun influenza B pada orang berusia satu tahun atau lebih.
Relenza® (merek dagang dari Zanamivir)
Relenza
Relenza
|
Struktur Molekul Zanamivir
Struktur Molekul Zanamivir
|
Obat ini juga disetujui untuk mengobati infeksi virus influenza A dan influenza B pada orang yang berusia 7 tahun atau lebih, sedangkan jika digunakan untuk pencegahan bisa diberikan pada orang berusia 5 tahun atau lebih.
Obat antiviral influenza masih sangat mungkin berkembang mengingat virus influenza sangat mudah bermutasi membentuk varian virus influenza baru.
Istilah pencarian terpopuler untuk artikel ini: