Archive for the ‘BioHealth’ Category

Kera GMO Berhasil Mewariskan Gen Ubur-ubur

Pertama dalam sejarah, seekor kera hasil rekayasa genetik berhasil menurunkan gen ‘alien’ (gen yang berasal dari organisme lain) kepada keturunannya melalui proses perkawinan.

Keturunan marmoset GMO yang dapat berpendar (Image: E.Sasaki et al. 2009).

Keturunan marmoset GMO yang dapat berpendar (Image: E.Sasaki et al. 2009).

Bagi para ilmuwan rekayasa genetika, hal ini merupakan terobosan luar biasa, sebab cara perkawinan normal tentu saja jauh lebih mudah dan murah ketimbang rekayasa genetika itu sendiri. Dengan keberhasilan ini, ilmuwan cukup membiakkan hewan hasil rekayasa genetik sehingga menghasilkan keturunan yang membawa gen ‘alien’ yang sudah berhasil diturunkan. Tidak perlu lagi membuat hewan rekayasa genetik yang baru.

Disamping itu, karena eksperimen ini dilakukan pada kera, tentu saja ia diharapkan akan menjadi model yang lebih baik ketimbang tikus hasil rekayasa genetik untuk meneliti penyakit-penyakit pada manusia. Mengingat kera memiliki kemiripan genetik yang lebih besar dengan manusia dibanding hewan-hewan percobaan lain.

Erika Sasaki dari The Central Institute for Experimental Animals di Kawasaki, Jepang inilah yang berhasil meyusupkan sebuah gen dari ubur-ubur yang membuatnya dapat berpendar hijau di bawah sinar UV.

Bagaimana gen ‘alien’ bisa masuk?

Seperti sudah dibahas sebelumnya di sini, gen yang kini jadi favorit para ilmuwan rekayasa genetika adalah gen GFP yang berasal dari ubur-ubur. Dengan gen ini, mereka bisa melacak keberhasilan penyusupan gen ‘alien’ yang disusupkan bersama dengan gen GFP. Dan karena gen GFP ini menghasilkan protein yang dapat berpendar, maka pengamatannya pun jadi mudah yaitu cukup dengan visualisasi di bawah sinar UV. Jika sel suatu organisme bisa berpendar, artinya gen GFP dan gen ‘alien’ sudah berhasil disusupkan ke dalamnya. Sungguh suatu cara yang amat cerdas.

Rekayasan genetik ini awalnya dilakukan pada sang induk, Sasaki menginjeksikan sebuah virus yang membawa gen GFP tadi ke dalam embrio kera. Kemudian embrio yang membawa gen GFP tersebut ditempatkan ke dalam tujuh induk betina. Empat di antaranya berhasil melahirkan dengan total 1 marmoset jantan dan 4 betina yang membawa gen GFP.

Selanjutnya, ketika bayi jantan yang kini membawa gen GFP sudah matang secara seksual, ia berhasil menjadi ayah bagi anaknya yang juga ternyata bisa berpendar hijau. Artinya gen GFP kini berhasil diturunkan melalui proses perkawinan. Salah satu bayi betina pun kemudian menghasilkan embrio In Vitro Fertilization (IVF) yang juga membawa gen GFP.

Harapan bagi Dunia Medis

Sebetulnya keberhasilan menyusupkan gen ‘alien’ ke dalam primata bukanlah yang pertama. Setahun sebelumnya, para peneliti melaporkan keberhasilannya memasukkan gen yang menyebabkan penyakit Huntington ke dalam macaca. Tapi bedanya gen tersebut diinsersi ke dalam telur, bukan ke embrio, sehingga akibatnya tidak dapat diturunkan.

Begitu pula yang terjadi pada kera rekayasan genetik pertama yang diberi nama ANDi. Lahir pada tahun 2001, ANDi merupakan hewan rekayasa genetik yang pertama lahir setelah 40 kehamilan hasil percobaan. Meskipun ia dinyatakan membawa gen GFP, tetapi ANDi tidak dapat berpendar karena nampaknya gen GFP-nya tidak bekerja dengan baik.

Sasaki memberi harapan baru bagi dunia medis. Ia mengatakan bahwa karena marmoset termasuk primata, maka kera ini dapat dijadikan model yang lebih baik untuk mempelajari penyakit-penyakit pada manusia, khususnya penyakit yang berhubungan dengan kondisi neurologis.

Bagaimana pendapat Anda?

Sumber: NewScientist.com

Vitamin C Kurang Efektif Menyembuhkan Flu

cold-fluBanyak diantara kita yang ketika kita terserang flu segera berfikir untuk meminum jus jeruk atau suplemen vitamin C. Tetapi apakah cara tersebut memang efektif untuk menyembuhkan flu?

Buah jeruk, grapefruits dan makanan lainnya yang mengandung vitamin C memang bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Tetapi setelah berbagai penelitian dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa vitamin C hanya memiliki sedikit efek untuk menyembuhkan ataupun mencegah penyakit flu.

Definisi Vitamin C

Vitamin C adalah asam ascorbat, namun untuk menghindari efek meningkatnya keasaman lambung, vitamin C sering disajikan dalam bentuk garam natrium ascorbat.

vitamin-c
Asam Askorbat

Vitamin C Kurang Efektif Bagi Penderita Flu

Penelitian terbaru mengenai vitamin C, yang dipublikasi sekitar awal tahun ini dalam Cochrane Database of Systematic Reviews, mengevaluasi berbagai penelitian mengenai vitamin C selama beberapa dekade terakhir, yang melibatkan 11.000 subjek yang mengkonsumsi 200 mg atau lebih vitamin C setiap harinya. (Batas konsumsi vitamin C yang direkomendasikan oleh pemerintah Amerika adalah 60 mg per hari).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa vitamin C hanya sedikit berpengaruh untuk mengurangi atau mengobati sakit flu pada sebagian besar populasi. Tetapi bagaimanapun, hasil penelitian terhadap sebagian besar kelompok orang yang sering mengalami stress fisik (seperti atlet maraton, anggota militer dsb) menunjukkan bahwa vitamin C dapat menurunkan resiko mereka untuk terjangkit penyakit flu. Jika para atlet tersebut menkonsumsi vitamin C sesuai dosis yang dianjurkan setiap hari, maka kemungkinan mereka untuk terjangkit penyakit flu akan berkurang 50%.

Untuk orang-orang normal seperti kita, bagaimanapun juga meminum jus jeruk tidak akan terlalu banyak berpengaruh untuk mencegah penyakit flu. Seperti dikatakan Robert Douglas (Presiden The Public Health Association di Australia), “Jutaan orang yang mengkonsumsi vitamin C dengan dosis tinggi dengan asumsi bahwa akan mencegah penyakit flu sebenarnya tidak memiliki landasan yang kuat”.

Sejarah Hubungan Vit. C dengan Sakit Flu

Lalu bagaimana awal ceritanya sehingga vitamin C dihubungkan dengan obat flu?

Semuanya berawal dari Linus Pauling – seorang peraih Nobel Kimia yang hidup dari tahun 1901 hinga 1994. Pada tahun 1970, Pauling menulis buku “Vitamin C and the Common Cold,” yang mempopulerkan pernyataan bahwa jenis vitamin tersebut dapat mencegah seseorang terjangkit penyakit-penyakit ringan. Tetapi menurut Thomas Hager – penulis biografi Linus Pauling – “Buku tersebut diterbitkan dengan latar belakang sains yang kurang baik, dan tidak ada bukti yang mendukung pernyataan tersebut”.

“Pauling menerbitkan buku yang sangat berpengaruh tersebut tanpa menuliskan sedikitpun mengenai jurnal ilmiah di judul dan referensinya serta tanpa bukti yang cukup”, tambah Thomas Hager.

Mengkonsumsi Vit. C Kebiasaan Yang Baik

Walaupun efek dari vitamin C untuk menyembuhkan penyakit flu tidak ada, tetapi dokter hanya sedikit termotivasi untuk memperbaiki pernyataan mengenai vitamin C tersebut, dikarenakan konsumsi vitamin C bukanlah suatu ancaman bagi kesehatan publik. (Bahkan, beberapa penelitian telah menghubungkan sifat antioksidan dari vitamin C dengan mengurangi resiko kanker).

Lagi pula menurut Professor Arnold Monto – Professor Epidemiologi di University of Michigan’s School of Public Health, akan lebih baik untuk tidak membuat publik menjadi anti terhadap vitamin C, lagi pula konsumsi vitamin C tidak akan membahayakan kesehatan manusia. “Konsumsi vitamin C akan memberikan dampak baik, dan tidak akan berbahaya bagi kesehatan”, tambah Professor Monto.

Oleh karena itu, meskipun hubungan antara pencegahan penyakit flu dan vitamin C masih diragukan, namun kebiasaan mengkonsumsi vitamin C adalah baik mengingat sifat antioksidan dari vitamin C.

Obat Antiviral untuk Flu Babi (Influenza A H1N1)

Diagram of Influenza Virus

Diagram Virus Influenza

Obat Antiviral

Obat antiviral adalah obat-obatan (pil, cairan atau obat hirup) yang memiliki aktifitas melawan virus flu, termasuk virus Influenza A (H1N1) yang sekarang sedang ngetop. Obat ini bisa digunakan baik untuk pengobatan maupun pencegahan infeksi virus Influenza A (H1N1). Tapi tentu saja pemberian obat ini harus berdasarkan resep dokter. Dan harap diingat bahwa obat antiviral influenza hanya mempan untuk virus Influenza, tidak memberikan efek untuk virus lainnya meskipun gejala yang ditimbulkan mirip flu.

Setidaknya ada 4 obat antiviral influenza yang dapat digunakan, yaitu oseltamivir, zanamivir, amantadine dan rimantadine. Dari keempat obat itu, berdasarkan pengujian laboratorium hanya oseltamivir dan zanamivir yang nampaknya dapat digunakan untuk mengobati influenza A (H1N1) yang berasal dari Meksiko dan Amerika Utara, karena virus Influenza A (H1N1) ternyata sensitif terhadap keduanya. Sementara itu sang virus resisten alias tahan terhadap amantadine dan rimantadine.

Manfaat Obat Antiviral

Pengobatan

Jika Anda terserang flu, obat antiviral bisa membuat penyakit Anda berkurang dan membuat Anda merasa lebih baik lebih cepat. Obat ini juga mencegah komplikasi influenza yang lebih parah. Obat antiviral influenza akan lebih nyata khasiatnya jika dikonsumsi segera setelah penyakit menyerang (dalam waktu 2 hari), tetapi pengobatan harus terus dilakukan setelah 48 jam setelah gejala-gejala flu nampak, khususnya bagi para pasien yang dirawat di rumah sakit atau orang-orang yang beresiko tinggi terkena komplikasi terkait influenza.

Pencegahan

Obat antiviral influenza juga dapat diberikan untuk mencegah influenza kepada orang yang tidak sakit, tetapi telah atau mungkin berdekatan dengan orang yang terserang influenza A (H1N1), misalnya keluarga atau perawatnya.
Saat digunakan untuk pencegahan flu, obat antiviral memiliki efektifitas sekitar 70 – 90%. Lamanya waktu mengkonsumsi tergantung pada kondisi khusus orang tersebut.

Obat Antiviral Influenza di Pasaran

Dalam menghadapi wabah influenza A (H1N1) yang dikhawatirkan menjadi pandemi ini, otoritas kesehatan berbagai negara telah menyiapkan stok obat antiviral influenza. Obat-obatan tersebut adalah:

Tamiflu® (merek dagang dari Oseltamivir)

[simage=186,200,y,left] [simage=219,200,y,left]

Obat ini disetujui oleh CDC Amerika untuk mengobati dan mencegah infeksi virus influenza A maupun influenza B pada orang berusia satu tahun atau lebih.

Relenza® (merek dagang dari Zanamivir)

[simage=218,200,y,left] [simage=220,200,y,left]

Obat ini juga disetujui untuk mengobati infeksi virus influenza A dan influenza B pada orang yang berusia 7 tahun atau lebih, sedangkan jika digunakan untuk pencegahan bisa diberikan pada orang berusia 5 tahun atau lebih.

Obat antiviral influenza masih sangat mungkin berkembang mengingat virus influenza sangat mudah bermutasi membentuk varian virus influenza baru.

10 Kiat Agar Tetap Energik

Stay EnergizedHmm… Apa yang terjadi pada Anda setiap jam 3 sore di kantor? Pikiran mumet, badan lelah, mata mengantuk, menguap berkali-kali dan pikiran sudah tertuju pada kasur empuk di rumah? Memang akibat kerja sedari pagi membuat energi kita terkuras, tapi normalkah itu? Mengapa orang lain ada yang masih segar dan tetap semangat bekerja? Bisakah kita merasa fit seharian seperti pemeran iklan suplemen energi dan stamina di TV? Tentu saja bisa, bahkan tanpa harus mengkonsumsi suplemen ini itu. Cobalah 10 tips yang diberikan oleh para ahli fitness, tidur, nutrisi, psikologi dan pengobatan alternatif berikut ini agar Anda tidak ‘lowbat’ alias gampang soak bin lelah.

1. Dapatkan cahaya yang cukup

Dapatkan cahaya yang tepat dan Anda akan mendapatkan energi yang cukup banyak. Tapi masalahnya banyak rumah atau ruang kantor yang tidak memperhatikan asupan cahaya matahari, umumnya hanya mengandalkan cahaya lampu saja. Padahal cahaya matahari mengandung cahaya biru dengan panjang gelombang pendek pengaktif otak. Menurut Mariana Figueiro, asisten profesor di Pusat Riset Pencahayaan pada Institut Politeknik Rensselaer di Troy, New York, ritme jam biologis manusia lebih sensitif terhadap cahaya biru dibanding cahaya lainnya. Untuk memperoleh manfaat cahaya biru penambah energi tersebut, bukalah tirai jendela rumah sesaat setelah bangun pagi dan biarkan cahaya matahari masuk, atau jalanlah setiap pagi selama kira-kira 30 menit. Sewaktu bekerja di siang hari sebisa mungkin usahakanlah pergi ke luar kantor, jangan hanya mengurung diri di dalam ruangan. Jika ruang kantor Anda minim akan cahaya matahari, bantulah dengan menggunakan bola lampu bercahaya alami/natural, atau lebih baik lagi yang memiliki teknologi cahaya biru.

2. Makan makanan yang mengandung protein

Para ahli berpendapat, makanan berprotein dapat meningkatkan kewaspadaan mental dan energi. Protein mengandung tyrosine, sebuah asam amino yang meningkatkan senyawa kimia otak yaitu dopamine dan norepinephrine. Senyawa tersebut meningkatkan kepuasan juga. Memakan protein nabati atau hewani –sebutir telur atau sereal berprotein tinggi untuk sarapan, 10 butir kacang almond menjelang siang, secangkir yogurt rendah gula di siang hari– maka stamina Anda akan stabil.

3. Ulurkan tangan Anda untuk kebaikan

Riset memperlihatkan bahwa Anda akan mendapatkan serbuan endorphin yang dapat bertahan selama berjam-jam ketika Anda berbuat kebaikan secara sukarela. Tidak perlu jauh-jauh, cobalah perhatikan sekitar Anda, mungkin ada tetangga Anda yang kekurangan makanan bergizi atau anak-anak yang ingin memiliki mainan. Sering-seringlah bergaul dengan lingkungan Anda, tak perlu sungkan-sungkan untuk memberikan makan siang untuk para penyapu jalan misalnya. Ketika Anda berbuat kebaikan Anda akan merasa hidup Anda terisi kembali.

4. Tarik nafas dalam-dalam — lebih sering

Saat kita bergerak, oksigen dikirimkan ke seluruh sel tubuh melalui aliran darah untuk menyegarkan sel. Untuk itu para ahli diet dan fitness berpendapat bahwa olah raga harus diatur jenis dan waktunya agar memaksimalkan pemasukan oksigen. Pagi-pagi bolehlah diisi dengan angkat beban, berlatih dengan exercise ball , atau yoga selama lima menit saja. Lalu sekembalinya dari makan siang jangan pakai lift untuk kembali ke ruangan Anda, gunakan tangga (itupun kalau kantor Anda ada di lantai atas dan ada lift). Kecuali kalau mesti naik ke lantai 20 ya jangan paksakan naik tangga semua, kombinasikan misalnya 5 lantai naik tangga dan sisanya pakai lift, atau sebaliknya, terserah Anda lah. Sehabis makan malam bisa juga jogging ringan. Agar olah raga cardio Anda lebih ‘nendang’, tarik nafas dalam-dalam pada satu atau menit pertama. Tarik nafas melalui perut, kemudian hembuskan perlahan-lahan, sambil membayangkan Anda menarik pusar ke arah punggung.

5. Teh putih

Teh putih bisa juga menambah energi Anda, dengan rasa yang lembut dan membutuhkan sedikit pemanis saja. Karena menurut peneliti manfaat teh, teh putih lah yang paling sedikit mengalami pemrosesan. Teh putih mengandung L-theanine dengan konsentrasi paling tinggi, sebuah asam amino yang menurut riset terkini dapat menstimulasi gelombang otak alfa untuk meningkatkan kewaspadaan namun menghasilkan efek tenang. Dan karena secangkir teh putih ini mengandung lebih sedikit kafein (15 mg) dibanding teh-teh lainnya (sampai 50 mg) dan kopi (120 mg), sehingga ia lebih bersifat hidrasi, kata kunci lainnya untuk mendukung energi.

6. Jangan Terpaku Rutinitas

Ubahlah rutinitas Anda selama 15 menit setiap kalinya untuk meningkatkan energi Anda. Ambillah rute perjalanan yang lain dari biasanya, cicipi jenis masakan baru, berkebun selama beberapa menit atau ambil pensil dan menggambar. Seperti seorang bayi yang selalu mencoba hal-hal baru. Mulailah dari hal-hal kecil, langsung mengubah sesuatu yang besar secara drastis hanya akan menambah tumpukan stress. Anggaplah hal-hal kecil ini sebagai kesempatan untuk memperbarui diri, buka sebagai tugas yang membebani Anda.

7. Pijatan

Dapatkah energi Anda terhalangi? Terapi-terapi seperti akupuntur dan Reiki (suatu teknik pemijatan ala Jepang) dapat membantu. Terapi seperti ini dapat menyingkirkan penghalang yang membuat problem-problem emosional dan fisik pada tubuh kita. Ketika penghambat itu hilang maka otomatis energi akan mengalir. Faktanya –seperti yang diungkap oleh New Scientist– bahwa akupuntur dapat mengurangi kelelahan pada pasien-pasien kanker. Kalau 30-an menit akupuntur dirasa terlalu lama, cobalah akupressur mandiri. Menurut para ahli ada korelasi positif antara akupressur dan peningkatan kewaspadaan. Caranya: Gosoklah otot antara ibu jari dan telunjuk Anda selama tiga sampai lima menit; mestinya Anda merasakan sedikit nyeri, namun kemudian Anda akan merasakan suatu sensasi yang nikmat.

8. Menjauhlah dari teknologi barang sekejap

Ketergantungan terhadap barang elektronik membuat kita selalu merasa sedang sibuk. Adrenalin Anda akan terpicu setiap kali ponsel berdering atau ada email masuk. Padahal hidup penuh adrenalis bisa membuat Anda lelah. Riset menunjukkan bahwa ponsel khususnya dapat menambah stress pada wanita. Meskipun pria dan wanita sama-sama merasa bahwa ponsel membuat kekhawatiran akan urusan pekerjaan mempengaruhi kehidupan mereka di rumah, tapi hanya wanita yang merasakan efek sebaliknya, urusan rumah bisa terbawa ke kantor. Solusinya: Buatlah batas yang jelas antara urusan kantor dan rumah. Sehingga perhatian kita tidak selalu terbagi. Bebaskan diri Anda setidaknya satu jam sehari dari alat-alat elektronik. Kesempatan untuk ‘check-in’ dan terhubung dengan diri sendiri membuat Anda berenergi kembali.

9. Meditasi kilat

Meditasi kilat sangat cocok bagi Anda yang super sibuk. Meditasi saat break singkat, cukup tiga menit saja, dapat menambah kewaspadaan dan perhatian, tune-up kecil-kecilan. Meditasi di sini hanya sekedar menyingkir sementara dari kesibukan, mencari tempat yang tenang dan rileks sejenak. Para ahli merekomendasikan meditasi pada pagi hari sebelum memulai hari dan siang hari sebelum sindrom jam 3 menyerang. Carilah tempat sepi (bahkan di kamar mandi sekalipun) dan fokuskan mental Anda pada sebuah gambaran yang membuat Anda nyaman: lautan, bunga, matahari, kucing kesayangan; pertahankan gambaran tersebut dalam fikiran Anda sambil menghirup nafas dalam-dalam (kira-kira 10 detik untuk setiap hirupan dan hembusan). Dengan sedikit berlatih, Anda akan menjadi lebih mahir dalam menjaga fokus dan dapat menambah frekuensi meditasi kilat ini bilamana diperlukan.

10. Higieniskan tidur Anda

Kata yang populer dalam ilmu tidur dewasa ini adalah “tidur yang higienis”, yang membantu Anda menciptakan atmosfir yang sangat nyaman untuk beristirahat, sehingga Anda akan tidur nyenyak dan bangun dalam keadaan ‘baterai’ penuh tanpa perlu bantuan pil tidur. Tiga rahasia tidur yang baik Tidur yang higienis biasanya mencakup 3 hal:

  • gelap-totalkan kamar tidur Anda
  • atur suhu ruangan agar tidak terlalu panas atau terlalu dingin, moderat saja, dan
  • gunakan suara lembut untuk membantu Anda terlelap (suara kipas angin/AC atau musik lembut).

Sumber: HEALTH Magazine

Fase Pandemi Influenza WHO (2009)

pandemicSeperti kita ketahui wabah flu babi yang bermula dari Meksiko kini telah ditetapkan oleh badan kesehatan dunia WHO sebagai fase 5 pandemi Influenza. Penyakit yang belakangan dinamai Influenza A (H1N1) sesuai dengan nama virus penyebabnya ini tinggal satu tingkat lagi untuk menjadi pandemi fase 6 alias fase tergawat. Mudah-mudahan kekhawatiran ini tidak sampai terjadi. Nah, tulisan berikut ini menjelaskan setiap fase pandemi menurut WHO.

Fase 1

Tidak dilaporkan adanya virus Influenza hewan yang bersirkulasi pada hewan yang menyebabkan infeksi pada manusia.

Fase 2

Sebuah virus Influenza hewan yang menjangkiti hewan-hewan peliharaan atau hewan liar diketahui telah menyebabkan infeksi pada manusia dan oleh karena itu ditangani dengan suatu penanganan khusus pandemik potensial.

Fase 3

Sebuah virus Influenza hewan atau virus ‘reassortant’ manusia-hewan telah menyebabkan kasus yang sporadis atau kluster-kluster kecil penyakit pada manusia, tapi belum menyebabkan penularan dari manusia ke manusia yang cukup untuk menimbulkan outbreak (wabah) di tingkat masyarakat.

Fase 4

Penularan — baik virus Influenza hewan atau virus Influenza ‘reassortant’ manusia-hewan– dari manusia ke manusia yang dapat menimbulkan outbreak (wabah) di tingkat masyarakat telah diverifikasi.

Fase 5

Penyebaran virus dari manusia ke manusia di dua atau lebih negara yang termasuk wilayah WHO.

Fase 6

Selain kriteria yang didefinisikan pada fase 5, virus yang sama juga menyebar dari manusia ke manusia di setidaknya satu negara lain di luar wilayah WHO.

Periode pasca puncak

Tingkat pandemi influenza di sebagian besar negara dengan pengawasan yang cukup telah turun hingga di bawah tingkatan puncak.

Periode pasca pandemi

Tingkat aktifitas influenza telah kembali ke tingkatan yang terlihat seperti influenza musiman di sebagian besar negara dengan pengawasan yang cukup.

Peringatan fase pandemi WHO saat ini adalah fase 5Peringatan fase pandemi WHO saat ini adalah fase 5

Mengenal Virus Influensa

Flu merupakan penyakit pernafasan yang disebabkan oleh virus yang biasa disebut virus influensa. Virus adalah parasit berukuran mikroskopik yang menginfeksi sel organisme biologis. Virus hanya dapat bereproduksi di dalam material hidup dengan menginvasi dan memanfaatkan sel makhluk hidup karena virus tidak memiliki perlengkapan selular untuk bereproduksi sendiri. Ada 3 bentuk virus, virus A, B, dan C. Tipe A dan B adalah virus yang menyerang manusia. Sementara virus tipe C jarang menyerang manusia.

Virus influensa tipe A memiliki beberapa subtipe yang ditandai adanya Hemagglutinin (H) dan Neuramidase (N).


influenza-virus-a1

Gambar 1. Struktur virus influensa A

Strain virus dikarakterisasikan berdasarkan dua macam protein yang terdapat pada permukaan virus. Dua macam protein tersebut adalah Neuraminidase dan Hemagglutinin. Kedua protein ini terdapat di permukaan virus layaknya paku-paku yang menancap. Dan kira-kira 80% nya adalah hemagglutinin, protein trimerik yang berfungsi dalam proses penyerangan virus ke sell tuan rumah. Sedangkan 20 %-nya terdiri dari neuraminidase, yang diperkirakan terlibat dalam pelepasan partikel virus baru dari cell host. Bagian dalam sell mengandung RNA yang merupakan kode genetik untuk proses replikasi.

Pada virus influensa, terdapat 15 subtipe hemagglutinin yang berbeda dan 9 subtipe neuraminidase. Untuk setiap perbedaan tipe akan menghasilkan virus dengan strain yang berbeda juga. Sebagai contoh virus flu burung, AH5N1. A untuk tipe virus influensa jenis A, hemagglutinin tipe 5, dan neuraminidase tipe 1. Dan virus ini akan terus bermutasi menghasilkan virus-virus baru yang lain dengan virus asalnya. Misalnya virus H9N14, H9N2, H1N1, dan strain-strain lainnya. Diketahui bahwa yang paling mematikan adalah strain virus H5 dan H7 yang dapat menimbulkan kematian yang luas pada hewan ternak.


influenza-a-pandemics1

Gambar 2. Perkembangan mutasi virus influensa

Virus influensa yang menyerang unggas disebut virus Avian Influensa (AI). Awalnya virus ini hanya menular antar unggas. Namun kemudian diketahui bahwa virus ini mampu menyerang hewan lainnya seperti babi dan sapi. Kebanyakan strain virus tidak dapat berpindah dari hewan kepada manusia, namun virus yang telah bermutasi dan menyerang manusia dapat menular ke manusia lainnya, hal ini dapat menyebabkan pendemik flu yang luas. Virus flu burung yang kemarin sempat membuat heboh adalah subtipe H5N1 yang memiliki waktu inkubasi selama 3-5 hari.

Virus Flu dapat menyebar melalui udara, berbagi alat makan dan minum, atau kontak langsung dengan penderita. Intinya virus flu sangat mudah menyebar dan menular. Virus yang menempel di kulit dapat masuk ke dalam tubuh saat menyentuh atau menggaruk hidung dan mulut. Mencuci tangan sangat penting guna membatasi penyebaran virus. Gejala akan terasa pada satu sampai empat hari setelah infeksi.

infection-proses

Gambar 3. Infeksi virus masuk melalui hidung


Biologi molekuler dari virus influenza sangat kompleks dan full mekanisme-nya masih belum jelas seluruhnya. Meski begitu, para ahli sudah menyadari bahwa vaksin anti influenza yang efektif tidak akan dapat dikembangkan karena proses mutasi sang virus yang sangat cepat. Sekali vaksin telah berhasil diciptakan untuk satu jenis virus, virus tersebut dengan cepat akan bermutasi dan menjadi resistan. Vaksin terus diproduksi untuk virus-virus A dan B yang telah diketahui, meskipun strain baru dari virus tersebut masih bisa menginfeksi orang-orang yang telah di beri vaksinasi. Inilah mengapa virus influensa seringkali menjadi wabah pendemik yang luas.

Banyak sudah usaha membuat obat dan antivirus influensa telah dilakukan. Namun tidak ada satu obat/antivirus-pun yang mampu untuk menghancurkan semua jenis strain virus. Pembuatan antivirus harus terus dilakukan seiring dengan munculnya virus influensa dengan strain-strain baru.

x