
Kabarnya backbone DNA alien tersusun dari unsur arsen, bukan fosfor
(Image from dogonews.com)
Mendengar kata arsen kita pasti langsung teringat racun, karena senyawaan arsenik memang sangat berbahaya bagi tubuh dan bahkan sangat mematikan. Lalu bagaimana jadinya jika ada mikroorganisme yang ternyata bersahabat dengan arsen? Jangan-jangan masih ada hubungan saudara dengan alien.
Awal Desember 2010, masyarakat Indonesia digegerkan dengan beberapa fenomena alam, seperti lahirnya sapi berkaki enam dan kambing yang berperilaku layaknya anjing. Berita akan fenomena ini begitu besar sehingga mendapat perhatian dari masyarakat luas. Pada saat yang bersamaan, ilmuan dunia digegerkan oleh suatu penemuan yang lebih besar. Bakteri yang dapat hidup dan berkembang biak menggunakan senyawa arsen. +Continue Reading
Istilah pencarian terpopuler untuk artikel ini:

Image from abcnews.com.
Artikel ini bukan sebuah cerita horor yang diangkat jadi film, tapi bener-bener kisah nyata. Ceritanya ada spesies bakteri mungil yang berhasil ‘dihidupkan’ lagi setelah 120 ribu tahun lamanya terkubur pada kedalaman tiga kilometer dalam lempengan es Greenland. Penemuan ini memberi harapan akan adanya kehidupan serupa di lingkungan ber-es di planet lain.
Bakteri ini secara resmi dinamai Herminiimonas glaciei, bentuknya berupa batang dengan panjang hanya 0,9 mikrometer dan diameter 0,4 mikrometer, sekitar 10 – 50 kali lebih kecil dibanding bakteri yang sudah ngetop lebih dulu, Escherichia coli.
Salah seorang anggota tim yang mendeskripsikan spesies baru ini, yaitu Jennifer Loveland-Curtze dari Pennsylvania State University mengatakan bahwa yang unik dari bakteri ini adalah ukurannya yang sangat mungil, dan nampaknya bisa bertahan dalam sumber makanan yang sangat sedikit.
Loveland-Curtze berspekulasi bahwa, karena dimensinya yang sangat kecil sehingga ia dapat bertahan hidup dalam lorong-lorong kecil di dalam es, mengais-ais makanan (nutrient) yang juga sama-sama terkubur di dalam lapisan es. Bakteri ini juga mempunyai flagella yang mirip ekor sehingga mampu bermanuver dalam lorong untuk menemukan makanan.
Dalam salju yang menimbunnya, Loveland-Curtze dan tim jg mendapati adanya sel-sel bakteri, spora jamur, spora tanaman, mineral dan ‘puing-puing’ zat organik lainnya. Sehingga mereka berpostulat bahwa bakteri tersebut hidup di dalam relung mikro tersebut di dalam es.
Proses ‘Pembangkitan’

Herminiimonas glaciei. Image from dailymail.co.uk.
Bagaimana bakteri tersebut ‘dibangkitkan kembali’? Tim peneliti melakukannya dengan menyimpannya pada suhu 2°C selama 7 bulan, kemudian pada suhu 5°C selama 4,5 bulan lagi. Setelah itu, barulah tampak koloni-koloni bakteri yang sangat kecil berwarna coklat keunguan, menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Mikroba di Planet Lain
Dengan penemuan ini, Loveland-Curtze sampai berspekulasi bahwa mikroba-mikroba sejenis mungkin saja ada di dalam es di planet-planet atau bulan-bulan lain, seperti es di kutub Mars atau lautan yang tertutup es di Europa, salah satu bulan Jupiter.
Fenomena ini juga semakin menguatkan fakta bahwa es adalah medium yang paling baik untuk mengawetkan asam nukleat, senyawa-senyawa organik dan sel. Kemungkinan untuk menemukan mereka dalam lingkungan semacam itu sangat besar karena kondisi dingin tersebut. Loveland-Curtze mengatakan, “Ini memberi harapan pada kita bahwa ada sesuatu di sana, kami dapat menemukannya.”
Laporan selengkapnya bisa dilihat pada International Journal of Systematic and Evolutionary Microbiology (DOI: 10.1099/ijs.0.001685-0).
Sumber: www.NewScientist.com
Istilah pencarian terpopuler untuk artikel ini:

Bhinneka Tunggal Ika (image from kayakarya.com)
Prof. Ir. Antonius Suwanto, Ph.D.
Guru Besar Genetika Molekul
Departemen Biologi, Institut Pertanian Bogor, Bogor
Setiap individu manusia dewasa tersusun dari sekitar 10 triliun sel yang tidak kasat mata. Oleh karena itu kita disebut sebagai makhluk multisel. Sel manusia itu sangat beragam: ukuran, jenis, jumlah, dan tugas atau fungsinya. Ada sel kulit, sel darah, sel tulang, sel jantung, sel otak dan lainnya. Sejumlah sel berkelompok membentuk suatu jaringan tertentu dengan fungsi yang khusus pula.
+Continue Reading
Istilah pencarian terpopuler untuk artikel ini:

Perbesaran mikroskopis plak gigi (image by STEVE GSCHMEISSNER / SCIENCE PHOTO LIBRARY)
Plak (plaque) alias karang gigi adalah salah satu masalah pada gigi yang paling sering ditemui terutama pada usia remaja dan dewasa. Sikat gigi saja tidak dapat mencegah 100% terbentuknya plak, makanya dokter gigi menyarankan agar kita membersihkan plak setidaknya setiap 6 bulan sekali. Namun belakangan ini para ilmuwan Jepang berhasil mengidentifikasi suatu jenis protein yang efektif mencegah terbentuknya plak. Jadi nantinya bisa dibuat suatu jenis pasta gigi yang mengandung protein ini yang dapat menghambat pertumbuhan plak. +Continue Reading
Istilah pencarian terpopuler untuk artikel ini:

Susu Formula (image from indodaddy.com)
Prof. Antonius Suwanto, Ph.D.
Guru Besar Rekayasa Genetika
Institut Pertanian Bogor
Seorang peneliti IPB melaporkan keberhasilannya dalam mengisolasi sejumlah isolat Enterobacter sakazakii dari susu formula. Hasil penelitian ini mengundang perhatian media dan telah menjadi polemik tersendiri. Tulisan ini berusaha mengulas keragaman atau variasi dalam satu spesies bakteri dan bagaimana seharusnya kita menyikapi laporan tersebut.
+Continue Reading
Istilah pencarian terpopuler untuk artikel ini:

Virus vs Bacteria (Image from cdn-www.cracked.com)
Ternyata sistem imun tidak hanya milik makhluk hidup tingkat tinggi seperti manusia dan hewan, bakteri pun memilikinya. Sistem imun pada bakteri bahkan diperkirakan merupakan sistem imun alami paling primitif di dunia ini. Bagaimana proses yang terjadi sehingga bakteri bisa memiliki sistem imun sehingga dapat tahan antibiotik dan zat kimia tertentu? Mari kita simak hasil penelitian Prof. Thomas Wood dari Departemen Artie McFerrin Kimia Teknik Texas A&M University yang dimuat di situs ScienceDaily. +Continue Reading
Istilah pencarian terpopuler untuk artikel ini:

Bacterial Transformation (Image from gbiosciences.com)
Para ilmuwan rekayasa genetika gemar melakukan eksperimen dengan ‘menggunting’, ‘menyambung’ dan ‘menempelkan’ fragmen-fragmen DNA, kemudian memasukkannya ke dalam sel makhluk hidup seperti bakteri, fungi, tanaman dan juga hewan untuk dilihat bagaimana efek dari DNA yang dimasukkannya itu. Lantas bagaimana caranya agar suatu fragmen DNA dapat dimasukkan ke dalam sel makhluk hidup dan dapat berfungsi layaknya DNA milik sel itu sendiri?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kita kilas balik sejenak ke tahun 1928 ketika Frederick Griffith sedang mencari vaksin untuk melawan bakteri penyebab pneumonia yaitu Streptococcus pneumoniae. Saat itu ia dibuat heran ketika strain bakteri S. pneumoniae yang tidak virulen dapat berubah menjadi virulen setelah kontak dengan strain yang virulen yang sudah mati. Kok bisa? apa yang menyebabkan perubahan itu? +Continue Reading
Istilah pencarian terpopuler untuk artikel ini:
Video di atas adalah hasil karya Andrew Dopheide, yang menggambarkan proses signaling dan quorum sensing.

Quorum Sensing (picture from Microbeworld.org)
Bakteri yang berdiri sendiri tidak dapat membentuk biofilm, ia harus menunggu sampai sekelompok bakteri dengan jumlah tertentu telah terkumpul. Lalu, bagaimana caranya bakteri tersebut mengetahui bahwa jumlah mereka sudah cukup? (Padahal mereka kan gak punya jari untuk menghitung
)
Ternyata bakteri dilengkapi dengan sistem signalling. Setiap individu bakteri terus-menerus memancarkan molekul signal, yang dapat dideteksi oleh bakteri lain di dekatnya. Signal-signal ini memungkinkan bakteri untuk menentukan sel bakteri apakah yang ada di sekitar mereka dan apa yang mereka lakukan (hebat kan?). Selanjutnya signal-signal ini digunakan sebagai alat koordinasi untuk melakukan suatu proses tertentu seperti pembentukan biofilm. Proses inilah yang dinamakan Quorum Sensing.
Begitu jumlah bakteri meningkat, otomatis signal yang terdeteksi pun semakin tinggi frekuensinya. Dan ketika frekuensi signal mencapat suatu nilai ambang batas tertentu, maka hal ini dapat memicu suatu perubahan dalam regulasi gen dan rekonfigurasi peralatan seluler mereka untuk suatu keperluan baru, seperti produksi pili, polymer-polymer ekstraseluler, atau bisa juga zat-zat toksin.
Referensi:
Microbeworld.org
Istilah pencarian terpopuler untuk artikel ini:

Bahkan bakteri seperti E. coli pun punya 'memori' (Image from dost.gov.ph).
Berbagai perilaku mikroorganisme ternyata mencerminkan ‘kecerdasan’ yang mereka miliki.
Pernahkan membayangkan berapa jumlah makhluk bersel tunggal yang hidup di muka bumi ini? Buanyak banget pastinya, manusia saja jumlahnya bisa mencapai 2 miliar jiwa lebih. Kebanyakan mikroba masih menjadi misteri, tidak pernah atau amat sangat jarang kita perhatikan, bahkan diberi nama pun tidak. Namun banyak pula yang sudah kita kenal dan ternyata memiliki kemampuan yang sangat mengagumkan, sangat cerdas, tidak kalah dari makhluk lain yang multisel. +Continue Reading
Istilah pencarian terpopuler untuk artikel ini:
Kudeta tidak hanya bisa dilakukan oleh kelompok separatis..! Mikroorganisme seperti visrus dan bakteri juga bisa melakukannya, bahkan dengan cara yang lebih efektif dari kelompok separatis tersebut!
Tidak percaya..? silahkan saja baca artikel ini.. he.. he..
Sering kita baca berita bahwa tidak semua kudeta berhasil dengan baik, banyak yang gagal dan bahkan menghancurkan kelompok tersebut. Tapi sepertinya hal ini tidak berlaku untuk bakteri patogen. Cara mereka melakukan kudeta melalui tahap persiapan yang “sangat matang”. Hal ini bisa terjadi karena mekanisme quorum sensing, dimana bakteri patogen itu bisa mengetahui tingkat populasi mereka melalui sinyal dari autoinducer yang mereka keluarkan. Ketika populasinya sudah cukup optimal untuk melakukan “kudeta” maka dengan serentak mereka akan merubah regulasi genetiknya dan menjadi bersifat virulen. Biasanya kalo hal ini sudah terjadi, maka sel atau tubuh inang sudah tidak mampu lagi untuk bertahan, sehingga bisa mengakibatkan kematian. Sungguh cara berdemo dan kudeta yang sangat efektif!.
Keefektifan mekanisme quorum sensing ini sangat berbahaya dan bisa menimbulkan bencana akibat infeksi bakteri patogen. Untuk lebih jelasnya tentang quorum sensing ini bisa anda baca pada artikel blog sebelumnya: quorum sensing: hidup bermasyarakat ala bakteri.
Mengingat dampak negatif yang ditimbulkan oleh mekanisme quorum sensing ini, sekarang banyak sekali digalakkan penelitian untuk mencegah quorum sensing terjadi.
Sejauh ini, antibiotik dan desinfektan merupakan cara lama yang sudah tidak efektif untuk mencegah penyakit yang disebabkan bakteri patogen ini. Sudah banyak bakteri patogen yang tahan bahkan kebal terhadap antibiotik dan desinfektan. Oleh sebab itu temuan tentang mekanisme quorum sensing ini juga menjadi keuntungan buat kita untuk menemukan cara lain mencegah terjadinya sifat patogen pada bakteri berbahaya tersebut.

Perusakan sistem quorum sensing diharapkan mampu menjadi strategi efektif untuk menghilangkan patogenitas bakteri berbahaya. Strategi perusakan mekanisme quorum sensing ini bisa dilakukan dengan beberapa cara, pada tahap yang berbeda-beda, misalnya:
- Menghambat biosintesa senyawa autoinducer, sehingga tidak pernah terjadi quorum sensing karena autoinducer tidak diproduksi, biasanya ini dilakukan pada tahap ekpresi genetik, dimana ada hambatan dalam sintesa RNAnya; “ribonucleic-acid-III-inhibiting peptide” termasuk kategori ini.
- Inaktivasi senyawa autoinducer, senyawa autoinducer tetap dapat diproduksi tapi menjadi tidak aktif.
- Pemberian atau penerapan senyawa antagonis quorum sensing, seperti halogenated furanones, dan beberapa senyawa serupa yang ditemukan dalam tumbuhan dan alga.
- Degradasi autoinducer, senyawa autoinducer diproduksi, tetapi segera didegradasi sehingga tidak pernah terjadi quorum sensing. Degradasi ini dilakukan oleh bakteri laktonase anda acylase (acyl-homoserine lactones merupakan salah satu senyawa autoinducer)
- Pemberian agonist quorum sensing, yang merupakan senyawa yang bisa mengikat atau merubah struktur autoinducer menjadi tidak aktif.
Penelitian menunjukkan adanya indikasi bahwa metoda tersebut berpotensi memerangi infeksi mikroorganisme patogen dengan menghancurkan mekanisme quorum sensing sehingga bakteri tidak bersifat patogen.
Diharapkan dengan pendekatan studi seperti di atas, akan segera ditemukan formulasi obat untuk menanggulangi penyakit yang diakibatkan oleh serangan bakteri patogen tersebut.
Jadi, kembali ke laptop.. kalo mau melakukan kudeta, belajar aja dulu dari bakteri.. OK?
Istilah pencarian terpopuler untuk artikel ini: