Virus Flu H1N1 Pandemik Mulai Resisten Terhadap Tamiflu

dont panic

Image from www.virology.ws.


‘Kecerdasan’ virus flu babi H1N1 membuatnya bisa berkelit dari serangan Tamiflu, obat antiviral andalan untuk mengobati flu babi H1N1 yang kini sudah menjadi pandemik. Kasus ini telah ditemukan di Denmark, Jepang dan Hong Kong. Kasus di Denmark dan Jepang ditengarai terjadi akibat pemberian Tamiflu dosis rendah yang memicu resistensi virus, sedangkan kasus di Hong Kong terjadi pada penderita yang baru pulang dari Amerika dan belum pernah mengkonsumsi Tamiflu sebelumnya.
Pada artikel sebelumnya telah dibahas bahwa mikroorganisme juga punya ‘kecerdasan’ dan kemampuan luar biasa. Bahkan virus yang tidak diakui sepenuhnya sebagai makhluk hidup ini pun, ternyata punya ‘kecerdasan’ luar biasa yang membuatnya bisa bertahan hidup dan berkelit dari Tamiflu yang kini jadi andalan untuk membasmi virus H1N1 tersebut.

Kasus resisten virus flu H1N1 terhadap Tamiflu pertama kali diumumkan oleh Badan Kesehatan Nasional Denmark. Namun mereka menekankan bahwa “tidak ada bukti” yang menunjukkan virus resisten ini telah menyebar luas.

Kasus resisten Tamiflu ini mulai terungkap setelah seorang wanita yang pernah kontak dengan penderita flu H1N1 di luar negeri diberi Tamiflu sebagai profilaksis untuk mencegahnya ikut menderita flu H1N1. Namun kenyataannya wanita tersebut malah menunjukkan gejala-gejala flu H1N1. Kebijakan inilah yang sekarang dipertanyakan, karena sebagian besar negara-negara Eropa menerapkan kebijakan pemberian Tamiflu dosis rendah kepada orang-orang yang pernah kontak dengan pasien yang terinfeksi.

Sang Pasien kemudian diberi Relenza –obat antiviral lain– dan ternyata bisa sembuh. The State Serum Institute di Kopenhagen menemukan bahwa virus dalam tubuhnya telah bermutasi sehingga membuatnya resisten Tamiflu, dan mutasi ini diasumsikan terjadi dalam tubuhnya ketika ia memperoleh pengobatan profilaksis. Jadi ketika menulari wanita ini, virus tersebut belum bermutasi.

David Reddy, kepala ‘pandemic taskforce’ pada perusahaan farmasi Swiss, Roche, yang memproduksi Tamiflu mengatakan bahwa, “Perkembangan seperti ini tidaklah mengejutkan dari sudut pandang ilmiah “. Seperti halnya antibiotik, obat antiviral juga bisa memicu terjadinya resistensi virus terhadap obat tersebut.

Pertukaran Gen

Image from discovery.com

Image from discovery.com

Sebetulnya kasus resisten Tamiflu ini bukanlah yang pertama, sebelumnya pernah terjadi pada orang yang menerima obat ini untuk mengobati flu biasa (ordinary flu). Namun kejadian ini tidak pernah ditemukan menyebar, dan Reddy mengatakan kepada para jurnalis bahwa kasus di Denmark ini tidak sepenuhnya sama. Artinya, virus H1N1 pandemik yang resisten Tamiflu ini cukup memiliki kemampuan untuk menyebar. Virus flu H1N1 musiman saja hampir semuanya menjadi resisten Tamiflu lebih dari dua tahun terakhir ini, dan hingga ini penyebabnya belum difahami secara pasti. Para ilmuwan kini khawatir kalau-kalau virus flu pandemik –yang juga anggota famili H1N1– bisa menjadi resisten Tamiflu melalui ‘pembiakan’ silang (interbreeding) dengan strain virus flu biasa.

Selain interbreeding, resistensi ini bisa juga diakibatkan oleh obat antiviral. Hingga artikel ini ditulis, Denmark dilaporkan ‘hanya’ memiliki 37 kasus flu pandemik, sehingga mereka masih berusaha mencegah penyebaran virus dengan memberikan Tamiflu kepada orang yang pernah kontak dengan pasien virus resisten tadi. Sekali virus tersebut menyebar luas, usaha apapun untuk mencegah penyebarannya menjadi sia-sia saja.

Para ilmuwan memperingatkan bahwa “belum begitu jelas apakah profilaksis dalam skala besar itu dibenarkan, sebab akan meningkatkan potensi risiko terjadinya resistensi tingkat tinggi”. Dosis profilaksis adalah setengah dosis dari yang digunakan untuk pengobatan, dan dosis rendah seperti ini bisa memicu terbentuknya strain yang resisten.

So.. Para pengambil kebijakan harus lebih berhati-hati dalam mencegah dan menangani kasus flu pandemik ini, nampaknya sang virus telah menyambut genderang perang yang sudah kita tabuh. Sekarang kita sedang beradu pintar dengan virus, sedikit saja salah strategi, lawanlah yang akan menang. Semoga manusia yang akan menang, Insya Allah.

Sumber: NewScientist

Other articles you may like:

Tags:

1 Comment

  1. raudah says:

    apa aja obatnya

Leave a Comment





x